HATI YANG ISTIQOMAH
Oleh
Abu Farwa Husnul Yaqin
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang
mulia, dan di hari yang mulia ini, marilah kita selalu menjaga dan
meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketakwaan kita kepada Allah
dengan sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang dibangun karena mengharap
keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala dan bukan keridhaan manusia,
ketakwaan yang dilandasi karena ilmu yang bersumber dari al-Qur`an dan
Sunnah Rasulullah, dan ketakwaan yang dibuktikan dengan amal perbuatan
dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan NabiNya karena
mengharap rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dan berusaha semaksimal
mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan Allah dan
NabiNya karena takut terhadap azab dan siksa Allah Subhanahu Wata’ala.
Thalq bin Habib Rahimahullah seorang tabi'in,
suatu ketika pernah menuturkan sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah di dalam Fatawanya,
اَلتَّقْوَى: أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله ، تَرْجُو رَحْمَة َالله وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله ، تَخَافَ عَذَابَ الله.
"Takwa adalah kamu mengamalkan ketaatan
kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, kamu mengharapkan rahmat
Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya
dari Allah, serta kamu takut azab Allah."
Demikianlah seharusnya yang selalu ada dan
tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim, sehingga akan membawa dampak
dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi yang istiqamah dan iltizam
(konsisten) terhadap agamanya sehingga pada akhirnya akan membentuk
keluarga dan komunitas masyarakat yang senantiasa berjalan di atas
manhaj dan jalan yang lurus. Dengan demikian, Allah Subhanahu Wata’ala
akan memberikan kehidupan yang baik di dunia serta memberikan balasan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah diperbuat di akhirat kelak
sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wata’ala janjikan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sebenarnya yang menjadi pangkal utama
sehingga seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan memperoleh
rahmat Allah Subhanahu Wata’ala serta selamat dari azabNya pada Hari
Kiamat kelak adalah sejauh mana dia dapat menjaga dan memelihara hatinya
sehingga selalu condong dan mempunyai ketergantungan hanya kepada Allah
Subhanahu Wata’ala sebagai satu-satunya dzat yang selalu
membolak-balikkan hati setiap hambaNya sesuai dengan kehendakNya, dan
bukan justru sebaliknya, di mana hatinya selalu condong kepada hawa
nafsunya dan tipu daya setan laknatullah alaihi. Karena pada
dasarnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan melihat ketampanan dan
kecantikan wajah kita, tidak pula melihat kemulusan dan kemolekan
badan-badan kita, namun Allah Subhanahu Wata’ala hanya akan melihat
hati-hati kita dan amal perbuatan kita. Manakala hati seseorang bersih,
maka akan membawa dampak kepada kebaikan seluruh anggota tubuhnya,
begitu sebaliknya jika hati seseorang telah rusak, maka rusaklah seluruh
anggota tubuhnya, sebagaimana hal ini pernah diisyaratkan oleh
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh al-Bukhari, 1/20.
أَلاَ، وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh
ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota
tubuh dan jika rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah,
ia adalah hati." (HR. al-Bukhari).
Karena itulah ma'asyiral Muslimin,
hati mempunyai peranan yang sangat fital dalam diri seseorang dan
menjadi sentral bagi anggota tubuh lainnya sehingga keberadaannyalah
yang dapat menentukan baik buruk dan hitam putihnya seluruh amalan dan
aspek kehidupan seorang Muslim.
Tentu yang demikian tidak sebagaimana yang
dipahami oleh kebanyakan manusia, khususnya kaum Muslimin di mana kalau
kita perhatikan kondisi kebanyakan mereka, niscaya kita akan menyaksikan
suatu fenomena yang sangat memprihatinkan dan me-nyedihkan. Mereka
memahami bahwa tolak ukur kebahagiaan seseorang sekedar dengan
penampilan lahiriyah dan materi belaka, sehingga mereka sibuk dengan
kehidupan dunianya, memperkaya diri, memperindah dan mempercantik diri
dengan berbagai macam bentuk keindahan dunia, namun pada saat yang sama,
mereka lalai dan lupa dengan keindahan, kebersihan, serta kesucian
batin yang pada akhirnya justru dapat menyelamatkan mereka; baik di
dunia maupun di akhirat kelak. Marilah kita renungkan sebuah ayat
sebagai bantahan Allah terhadap mereka, sebagaimana Firman-Nya :
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِءْيًا
"Berapa banyak umat yang telah Kami
binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah
tangganya dan lebih sedap dipandang mata." (Maryam: 74).
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَءَاثَارًا فِي اْلأَرْضِ فَمَآأَغْنَى عَنْهُم مَّاكَانُوا يَكْسِبُون.
"Maka apakah mereka tidak mengadakan
perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan
orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang sebelum mereka itu lebih
hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi,
maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." (Al-Mu`min: 82).
Dua ayat di atas, cukuplah memberikan
penjelasan dan informasi kepada kita bahwa segala sesuatu yang mereka
usahakan dan mereka nikmati ternyata tidak berguna dan tidak dapat
menyelamatkan mereka. Na'udzubillahi min dzalik.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Oleh karenanya, keindahan batin dan
keselamatan hati merupakan dasar dan pondasi keberuntungan di dunia dan
di Hari Kiamat kelak. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
يَابَنِى ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ ءَايَاتِ ِالله لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah
menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk
perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah
sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu
ingat." (Al-A'raf: 26).
Sesungguhnya perkara hati merupakan perkara
agung dan kedudukannya pun sangat mulia, sehingga Allah Subhanahu
Wata’ala menurunkan kitab-kitab suciNya untuk memperbaiki hati, dan Dia
utus para Rasul untuk menyucikan hati, membersihkan, dan memperindahnya.
Demikianlah Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit
(yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang
beriman." (Yunus: 57).
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
لَقَدْ مَنَّ ِالله عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
"Sungguh Allah telah memberi karunia
kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka
seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada
mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan
kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum
(keda-tangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Ali Imran: 164).
Ajaran yang paling besar yang dibawa oleh
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah memperbaiki hati. Maka
tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki hati kecuali cara yang
telah ditempuh oleh beliau Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dengan demikian
seseorang akan memahami bahwa hatinya merupakan tempat bagi cahaya dan
petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala, yang dengannya seseorang dapat
mengenal Rabbnya, mengenal nama-namaNya dan sifat-sifatNya, serta dapat
menghayati ayat-ayat syar'iyah Allah, dengannya seseorang dapat
merenungkan ayat-ayat kauniyahNya serta dengannya seseorang dapat
menempuh perjalanan menuju akhirat, karena sesungguhnya perjalanan
menuju Allah Subhanahu Wata’ala adalah perjalanan hati dan bukan
perjalanan jasad.
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menuturkan di
dalam salah satu kitab beliau, "Hati yang sehat, yaitu hati yang selalu
terjaga dari syirik, sifat dengki, iri hati, kikir, takabur, cinta
dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang akan
menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wata’ala. Ia selamat dari setiap
syubhat yang menghadangnya. Ia terhindar dari intaian syahwat yang
menentang jati dirinya, dan ia terbebas dari segala keinginan yang akan
menyesaki tujuannya. Ia akan terbebas dari segala penghambat yang akan
menghalanginya dari jalan Allah. Inilah hati yang sehat di surga dunia
dan surga di alam kubur, serta surga di Hari Kiamat. Keselamatan hati
tidak akan terwujud, kecuali dengan terjaga dari lima perkara, yaitu
syirik yang bertentangan dengan tauhid, dari bid'ah yang berhadapan
dengan sunnah, dari syahwat yang menghambat urusannya, dari ghaflah
(kelalaian) yang menghilangkan dzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala,
dari hawa nafsu yang akan menghalangi ikhlash." (al-Jawab al-Kafi,
1/176).
Ibnu Rajab al-Hanbali pernah berkata,
"Keutamaan itu tidak akan diraih dengan banyaknya amal jasmani, akan
tetapi diraih dengan ketulusan niat kepada Allah Subhanahu Wata’ala
benar, lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan banyaknya pengetahuan
dan amalan hati." (Mahajjah fi Sair ad-Daljah, hal. 52).
Ini semua menunjukkan bahwa dasar keimanan
atau kekufuran, hidayah atau kesesatan, keberuntungan atau kenistaan
tergantung pada apa yang tertanam di dalam hati seorang hamba.
Abu Hurairah pernah menuturkan, bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ، وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ.
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada
jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia melihat kepada
hati kamu, kemudian menunjuk ke dadanya dengan telunjuknya." (HR. Muslim, no. 2564).
Bahkan, mayoritas ulama berkeyakinan bahwa
siapa saja yang dipaksa untuk menyatakan "kekufuran", maka ia tidak
berdosa selagi hatinya masih tetap teguh beriman kepada Islam dan tetap
dalam kondisi tenang beriman, sebagaimana FirmanNya :
مَن كَفَرَ بلله مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ ِالله وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ . ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ الله َ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah
sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang
yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia
tidak ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk
kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang
besar. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan
dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk
kepada kaum yang kafir." (An-Nahl: 106-107).
Ayat ini diturunkan, sebagaimana pendapat
mayoritas ahli tafsir adalah berkenaan dengan kejadian yang menimpa
Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk Islam, ia mendapat siksaan dari
orang-orang kafir Quraisy di Makkah sehingga ia mau mengucapkan kalimat
kekufuran kepada Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad Sallallahu
‘Alaihi Wasallam. Di lain kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan
kepada Rasu-lullah sambil menangis.
قَالَ: كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ قَالَ: مُطْمَئِنًّا بِالْإِيْمَانِ. قَالَ: إِنْ عَادُوْا فَعُدْ.
"... maka Nabi bersabda, 'Bagaimana
kondisi hatimu?' Ia menjawab, 'Aku masih tenang dalam beriman.' Maka
Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya kemudahan), 'Kalau
mereka kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi'." (HR. al-Hakim, 2/357).
Di dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah
Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda sebagaimana yang telah diriwayatkan
oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Anas bin Malik,
لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ.
"Iman seseorang tidak akan lurus (benar) sebelum hatinya lurus." (HR. Ahmad, no. 13079).
Ma'asyiral Muslimin Sidang Jum'ah Rahimakumullah
Ma'asyiral Muslimin Sidang Jum'ah Rahimakumullah
Demikian agungnya keutamaan dan urgensi hati
seseorang di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga kita dapat
mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam
diucapkan dengan ungkapan,
لَا، وَمُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ.
"Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati."
Dan di antara doa beliau adalah,
Dan di antara doa beliau adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
"Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu."
Hal yang demikian, karena pada dasarnya
kadangkala hati seseorang bisa mengeras, seperti batu atau bahkan lebih
keras dari itu, sehingga ia akan jauh dari Allah Subhanahu Wata’ala,
rahmatNya, dan dari ketaatanNya. Dan sejauh-jauh hati dari Allah
Subhanahu Wata’ala adalah hati yang kasar, di mana peringatan tidak lagi
bermanfaat baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia lembut,
perkataan tidak menjadikannya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki
hati yang demikian di dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan
manfaat apa-apa baginya, dan tidak akan melahirkan sesuatu pun, kecuali
kejahatan. Sebaliknya hati yang lembut, yang takut dan tunduk
merendahkan diri terhadap Penciptanya, Allah Subhanahu Wata’ala, serta
selalu mendekatkan diri kepadaNya, mengharapkan rahmatNya dan menjaga
ketaatanNya, maka pemiliknya akan mempunyai hati yang bersih, selalu
menerima kebaikan.
Maka dari itulah, Allah Subhanahu Wata’ala
menggarisbawahi bahwa keselamatan di Hari Kiamat kelak sangat tergantung
kepada keselamatan, kebersihan, dan kebaikan hati. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman :
يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى ِالله بِقَلْبٍ سَلِيم
"Di hari yang mana harta dan anak-anak
laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan
hati yang bersih." (Asy-Syu'ara` : 88 - 89).
Dengan demikian, marilah kita
bersungguh-sungguh dalam menjaga hati dan senantiasa mengawasinya, di
mana dan kapan saja waktunya, karena ia satu-satunya anggota tubuh kita
yang paling besar bahayanya, paling mudah pengaruhnya, dan paling sulit
mengurus dan memperbaikinya. Wallahul musta'an.
اللهم أَصْلِحْ شَأْنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاهْدِهِمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ، اللهم ارْزُقْهُمْ رِزْقًا مُبَارَكًا طَيِّبًا. اللهم أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
فَاتَّقُوا الله عِبَادَ ِالله ، وَخُذُوْا بِالْأَسْبَابِ الَّتِيْ تَحْيَى بِهَا الْقُلُوْبُ قَبْلَ أَنْ تَقْسُوَ وَتَمُوْتَ، فَإِنَّ ذلك مَنَاطُ سَعَادَتِكُمْ أَوْ شَقَائِكُمْ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ ِالله لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إلا ِالله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Miqdad
bin al-Aswad, ia menceritakan, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam
bersabda :
لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْيًا.
"Sungguh, hati anak Adam (manusia) itu
sangat (mudah) berbolak-balik daripada bejana apabila ia telah penuh
dalam keadaan mendidih." (HR. Ahmad, no. 24317).
Kemudian al-Miqdad berkata, "Sesungguhnya orang yang beruntung (bahagia) itu adalah orang yang benar-benar terhindar dari berbagai fitnah (dosa)." Ia mengulangi ucapannya tiga kali, sambil memberikan isyarat bahwa sebab berbolak-balik dan berubahnya hati adalah dosa-dosa yang berdatangan menodai hati.
Kemudian al-Miqdad berkata, "Sesungguhnya orang yang beruntung (bahagia) itu adalah orang yang benar-benar terhindar dari berbagai fitnah (dosa)." Ia mengulangi ucapannya tiga kali, sambil memberikan isyarat bahwa sebab berbolak-balik dan berubahnya hati adalah dosa-dosa yang berdatangan menodai hati.
Maka dari itu, agar hati kita tidak mudah
terpeleset dan menyimpang dari kebenaran dan cahaya dari Allah Subhanahu
Wata’ala, bahkan sampai tertutup dan terkunci karena hawa nafsu yang
membelit-nya serta segala hal yang dapat merusak dan membinasakannya,
maka perlu adanya usaha-usaha penjagaan terhadap hati yang bersifat
kuratif dan kontinyu, sekaligus resep (obat) sebagai usaha prefentif
agar bisa selamat dari segala bentuk penyakit-penyakit hati yang
mematikan.
Di antara hal yang dapat menyebabkan hati
seseorang menjadi tenang dan bersih adalah amalan memperbanyak membaca
ayat-ayat al-Qur`an dan mendengarkannya, karena al-Qur`an merupakan
penawar yang ampuh dari penyakit syubhat dan nafsu syahwat yang keduanya
merupakan inti penyakit hati seseorang. Di dalamnya terdapat
penjelasan-penjelasan yang akurat yang membedakan yang haq dari yang
batil, sehingga syubhat akan hilang, dan di dalamnya terdapat hikmah,
nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia, dan menghimbau untuk lebih
mengutamakan kehidupan akhirat, sehingga penyakit nafsu syahwat akan
hilang. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
"Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati
atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaf : 37).
ِالله نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ
كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ
يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى
ذِكْرِ ِالله ذَلِكَ هُدَى ِالله يَهْدِي بِهِ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِل
ِالله فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
"Allah telah menurunkan perkataan yang
paling baik (yaitu) al-Qur`an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi
berulang-ulang, kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, gemetar
karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki
siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka
tidak ada seorang pemberi petunjuk pun baginya." (Az-Zumar: 23).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur`an
yang menunjukkan demikian. Ini menunjukkan bahwa al-Qur`an adalah
sesuatu yang paling agung yang dapat melembutkan hati, bagi yang
membaca, mendengarkan, dan merenungkannya, serta mengamalkannya dalam
prilaku kehidupan sehari-hari.
Di antara usaha yang dapat menenangkan hati
adalah dengan mengambil pelajaran terhadap kejadian dan peristiwa serta
kehancuran yang menimpa umat-umat terdahulu akibat kemaksiatan yang
mereka lakukan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ . أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لاَتَعْمَى اْلأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
"Berapalah banyaknya kota yang Kami telah
membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka
(tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya, dan (berapa banyak
pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang
dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu
mereka dapat mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang
buta, tetapi yang buta, ialah hati yang berada di dalam dada." (Al-Hajj: 45 - 46).
Kemudian di antara yang dapat menenangkan
hati adalah dengan banyak mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dalam
situasi dan kondisi apa pun. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ الله وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman
itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, maka gemetarlah hati
mereka, dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, maka
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Rabb merekalah mereka
bertawakal." (Al-Anfal: 2).
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ الله أَلاَبِذِكْر ِالله تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (Ar-Rad: 28).
Dan termasuk penjagaan hati adalah menerima
secara total setiap perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan mengamalkannya
serta menjauhi setiap laranganNya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَإِذَا مَآأُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هذه إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ . وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka
di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapa di
antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun
orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka
merasa gembira. Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit,
maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping
kekafirannya (yang telah ada), dan mereka mati dalam keadaan kafir." (At-Taubah: 124 - 125).
Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَإِذَا مَآأُنزِلَتْ سُورَةٌ نَّظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُم مِّنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ الله قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَيَفْقَهُونَ
"Dan apabila diturunkan satu surat,
sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata),
'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah
itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan
mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
Dan di antara amalan yang dapat menjaga hati
seseorang dan membuatnya lembut adalah turut merenungkan keadaan
orang-orang sakit, orang fakir miskin, serta orang-orang yang telah
tertimpa musibah dan cobaan. Karena dengan mengunjungi orang sakit dan
melihat kondisi dan penderitaan mereka akibat penyakit yang dideritanya,
maka kita bisa menilai nikmat, begitu juga manakala kita melihat
keadaan orang-orang fakir miskin dan anak yatim, dan merenungkan apa
yang menjadi kebutuhan mereka, tentu kita akan merasakan dan mengetahui
nilai nikmat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah dianugerahkan kepada
kita sehingga dapat menenangkan hati kita. Namun manakala kita
mengabaikan hal-hal yang demikian, maka yang demikian dapat membuat
hati-hati kita mengeras.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
"Dan bersabarlah kamu bersama dengan
orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap
WajahNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena)
mengha-rapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami,
serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi: 28).
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di samping kita memperhatikan dan menghiasi
hati-hati kita dengan hal-hal tersebut di atas, maka sebagai bentuk
penjagaan kita juga harus senantiasa menghindari hal-hal yang dapat
mengotori, merusak, menodai, dan mencemarkan hati-hati kita. Di
antaranya, tidak sibuk dan mudah terpedaya dengan kenikmatan dunia yang
melalaikan, terbiasa dan membiarkan mata memandang hal-hal yang
diharamkan; baik melalui televisi ataupun video, dari segala bentuk
siaran sinetron, ataupun gambar-gambar yang terdapat dalam surat kabar
ataupun majalah, mendengarkan musik dan menikmati nyanyian seorang
penyanyi, ataupun menyibukkan diri dengan olah raga tertentu, baik
mengikuti perkembangannya, melihatnya secara berlebihan sampai banyak
menyita sebagian besar waktu yang ada.
Dan di antara yang dapat mengotori dan
merusak hati adalah makan makanan yang haram, dan berteman dengan pelaku
dosa dan maksiat.
Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya kebajikan
itu menyebabkan cahaya di dalam hati, sinar di wajah, kekuatan pada
jasmani, melapangkan rizki dan menimbulkan rasa kasih sayang terhadap
sesama. Sedangkan keburukan (dosa) menyebabkan kegelapan di dalam hati,
kemuraman pada muka, kelemahan pada jasmani, mengurangi rizki, dan
menimbulkan rasa benci terhadap sesama." (Madarij as-Salikin, 1/424).
Semoga kita yang hadir di majelis yang mulia
ini, termasuk golongan yang akan mendapat penjagaan dari Allah Subhanahu
Wata’ala, sehingga hati-hati kita senantiasa selamat dan bersih dari
segala sesuatu yang dapat menodai dan merusaknya.Amin ya rabbal 'alamin.
إِنَّ الله وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar