Cerita Rakyat, Babad Mlati
Kidul Kudus :
RADEN
AYU MLATI
(Telaah
Asal-Usul, Silsilah dan Sejarah)
Oleh
:
M.
Khoiruz Zad, S.Ag., S.Pd., M.Si
I.
Asal Usul
a.
Asal-usul Nama Desa Mlati
Letak geografis Kabupaten
Kudus, Jawa Tengah diantara: 110 36′ BT dan 110 50′ BT dan antara 6 51′ dan 7
16′ LS. Luas Wilayah 42.516 Ha. Jarak terjauh dari barat ke timur sepanjang 16
Km dan dari Utara ke Selatan sepanjang 22 Km. Ketinggian Wilayah rata-rata ± 55
m diatas permukaan air laut. Iklim tropis, temperatur sedang. Curah Hujan ±
2500 mm/thn ± 132 hari/tahun.
Batas Wilayah
Utara :
Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati
Timur :
Kabupaten Pati
Selatan :
Kabupaten Grobogan dan Pati
Barat :
Kabupaten Demak dan Kabupaten Jepara
Letak geografis Kecamatan
Kota, Kabupaten Kudus diantara 110 38’ BT dan 110 44’ BT
(Bujur Timur) 74’ LS dan 78’ LS (Lintang Selatan). Batas wilayahnya, yaitu:
Selatan : Kecamatan Jati
Utara : Kecamatan Bae
Timur : Kecamatan Jati dan Bae
Barat : Kecamatan Kaliwungu
Kecamatan Kota
Kudus beriklim tropis dengan cuaca panas. Banyaknya Curah hujan 94 mm/th. Suhu
tertinggi yang tercatat di Kecamatan Kota adalah 34 derajat celcius dan suhu
terendah 22 derajat celcius. Bentangan wilayah di Kecamatan Kota 100 % berupa
daerah yang datar sampai berombak.
Kabupaten
Kudus sampai sekarang ini, konon memiliki ratusan peninggalan
sejarah, dan cerita rakyat atau mitos yang mengiringi penamaan masing-masing
desa yang ada. Salah satunya adalah penaamaan tiga desa yang menggunakan nama melati
atau mlati, yang meliputi Desa Mlati Kidul, Mlati Lor dan Mlati Norowito.
Berikut ini, mitos yang berkembang di masyarakat yang mewarnai proses penamaan
Desa Mlati oleh Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shodiq.
Menurut
cerita rakyat yang berkembang, keberadaan Desa Mlati pada era Sunan Kudus, diawali
dengan pencarian Sunan Kudus akan sebuah bunga yang dapat menyembuhkan penyakit
kulit yang saat itu tengah merebak dan menjangkiti para santri yang bermukim di
padepokan atau pesantrennya Sunan Kudus. Di saat Sunan Kudus beristirahat usai
menunaikan ibadah sholat Subuh di tepi sungai sebelah timur pesantrennya, tiba-tiba
tercium aroma yang sangat wangi. Karena penasaran Sunan Kudus lalu melanjutkan
perjalanan ke arah timur, beberapa saat kemudian, sampailah Sunan Kudus tiba di
suatu desa yang banyak ditumbuhi tanaman bunga berwarna putih dengan bau yang
harum.
Saat
akan memasuki sebuah pekarangan rumah yang banyak ditumbuhi tanaman bunga
tersebut, tiba-tiba munculah seorang laki-laki tua dari dalam rumah yang
langsung menyapa,“Maaf kisanak, kisanak
siapa dan mau apa masuk ke pekarangan rumah saya?”tanya si pemilik rumah
kepada Sunan Kudus sambil mempersilahkan Sunan Kudus masuk ke rumahnya. “Maaf Pak, saya seorang pengembara dari
perdikan Kudus mau mencari asal-usul bau yang aromanya tercium wangi sampai di
perdikan saya. Ternyata bau tersebut berasal dari tanaman bunga yang banyak
tumbuh di desa ini. Kalau boleh saya tahu, apa nama bunga itu pak tua?”jawab
Sunan Kudus sembari balik bertanya kepada laki-laki tua tersebut. “Ooo bunga ini yang kisanak maksudkan.
Bunga ini namanya adalah Melati, baunya memang
harum, sehingga warga desa sini sangat menyukai bunga ini dan hampir semua
warga memilikinya. Selain Melati ini memiliki bau yang harum, juga dinyakini warga
desa dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Salah satunya penyakit kulit,”jawab Pak Tua lagi. “Apa betul itu Pak Tua? Kalau diizinkan, bolehkah saya minta beberapa tangkai
bunga milik Pak Tua? Kebetulan para santri saya, saat ini tengah dijangkiti
kusta. Dan kelak dalam rejoning zaman, desa ini akan dikenal dengan sebutan
Desa Mlati,”tanya Sunan Kudus lagi sembari memberitahu Pak Tua tersebut
bahwa kelak desa tempat tinggalnya bernama Melati atau Mlati.
“Boleh kisanak, silahkan ambil sebanyak yang kisanak
butuhkan,”jawab laki-laki tua itu
sambil mempersilahkan Sunan Kudus mengambil beberapa tangkai tanaman miliknya.
Setelah memetik beberapa tangkai Mlati, Sunan Kudus pun minta izin pulang kembali
ke padepokannya. Betul juga, sesampainya di padepokan, ternyata setelah diolesi
ramuan obat dengan bahan dasar tanaman tersebut penyakit kulit yang diderita
para santrinya berangsur-angsur hilang, dan akhirnya para santrinya pun sembuh
dari sakitnya.
Dalam
rejoning zaman, akhirnya desa tempat tinggal Pak Tua dikenal dengan sebutan
Desa Mlati. Dan Oleh Penjajah Kolonial Belanda, Desa Mlati dipecah menjadi
tiga.Yaitu Desa Mlati Kidul, Mlati Lor dan Mlati Norowito. Dari blog milik
Kantor Lurah Mlati Kidul, yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 pukul 10.15 WIB
diketahui bahwa, pada tahun 1981 Desa Mlati Kidul berubah status menjadi
Kelurahan Mlati Kidul dengan Lurah Pertama bernama Soedarno yang menjabat dari
tahun 1981-1990.
b.
Asal-Usul Makam Raden Ayu Mlati
Bagi masyarakat Kelurahaan
Mlati Kidul sekarang ini, tentu semuanya paham dan tahu, di mana letak makam
Raden Ayu Mlati? Dan tidaklah sulit untuk menemukannya. Sayangnya ketika mereka
ditanya asal usul tokoh penyebar agama Islam pertama di Mlati Kidul dan
sekitarnya, tidak banyak yang tahu. Dikarenakan, belum banyak buku yang
menjelaskan secara lengkap tentang sejarah maupun silsilahnya. Dalam dokumen milik
keluarga Sunan Kudus, Raden Ayu Mlati memiliki nama asli Raden Ayu Kalinyamatan.
Adapun makamnya terletak di
sebelah timur sekitar 250 meter dari Kantor Balai Kelurahan Mlati Kidul. Tetapi
untuk menceritakan asal-usul Raden Ayu Mlati yang sebenarnya, tidaklah sempurna
jika tidak didahului dengan menjelaskan silsilah leluhurnya, yaitu Sunan Kudus. Perlu diketahui,
silsilah Sunan Kudus sebagaimana yang penulis uraikan tersebut, bukanlah
silsilah sebagaimana aslinya. Tetapi silsilah yang sudah dirubah sedemikian
rupa, namun tidak meninggalkan esensi daftar keturunan yang ada sebagaimana
silsilah yang tertera di buku Serat Babad
Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647.
Berdasarkan
cerita rakyat yang sampai saat ini masih dipercayai, Indonesia pada zaman Wali
Songgo dahulu dikenal dengan sebutan tanah nusantara. Begitu juga pada zamannya
para Wali Songgo, dari silsilah Sunan Kudus tersebut yang tertera pada Buku
Babad Tanah Jawi, dapat diketahui semua wali songgo bernasab sampai Nabi
Muhammad SAW, tidak terkecuali Sunan Kalijaga, Raden Mas Syahid dan Sunan
Muria, Raden Mas Umar Said. Menurut buku “De
Hedramaut et les colonies Arabies danS’l Archipel Indien” Karya Mr. CL.N.
Van den Berg, Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab asli. Tidak hanya sunan
Kalijaga akan tetapi semua wali yang ada di Jawa adalah keturunan Arab.
1)
1) Kedatangan Sunan Kudus Yang Pertama
Menurut penuturan salah seorang keturunan Sunan
Kudus, DR. KH. Hamid, M.Pd.I., kedatangan Sayyid Ja’far Shodiq ke tanah
nusantara karena di suruh oleh Sultan Mahmud dari Kesultanan Turki menggantikan
Syekh Hasanuddin yang meninggal dunia. Kedatangan pertama Sayyid Ja’far Shodiq
ke tanah nusantara yang pertama saat beliau masih berusia 22 tahun. Namun karena
merasa pengetahuan Agama Islamnya masih kurang, Sayyid Ja’far Shodiq kembali
lagi ke Turki dan pergi untuk menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim di Makkah
selama beberapa tahun dengan tujuan memperdalam berbagai ilmu agama Islam.
2) 2) Kedatanagan Sunan Kudus Yang Kedua
Setelah berapa tahun
bermukim di Makkah, Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) ini pun kembali ke tanah
nusantara. Sesampainya di tanah nusantara dan menginjakkan kakinya di Kudus, kota tersebut masih bernama Tajug. Menurut
Buku Babad Tanah Jawa, Jafar Shodiq meninggalkan Kerajaan Demak karena alasan pribadi
semata, yaitu karena beliau ingin hidup merdeka dan membaktikan seluruh
hidupnya untuk kepentingan agama Islam. Sampai akhirnya Jafar Sodiq tiba pada
sebuah desa kecil bernama Sunggingan. Pemilik Desa Sunggingan
tersebut bernama The Liang Sing, yaitu seorang pedagang Cina yang dalam cerita
terdahulu bernama Sun Ging.
Beliau dulu pernah berjasa kepada Kerajaan Majapahit
untuk mengukir hiasan-hiasan kraton sehingga diberi hadiah berupa sebidang
tanah kecil yang akhirnya diberi nama Desa Sunggingan karena berasal dari nama
pemiliknya Sun Ging yang berarti tempat tinggal keluarga Sun Ging orang Cina beragama Islam yang datang ke tanah
nusantara bersama Laksamana Cheng Hoo. Ketika itu laksamana
Cheng hoo berlayar dari negeri satu ke negeri lainnya. Di samping itu, Laksamana
Cheng Hoo juga mempunyai visi untuk menyebarkan Islam di wilayah Asia Tenggara.
Dalam pelayarannya, ia mendarat di pelabuhan Semarang.
The Liang Sing
ikut serta dalam rombongan Cheng Hoo. Dalam perjalanannya, akhirnya ia sampai
di Blora, Jawa Tengah. Kemudian ia mengembangkan dakwah Islam di daerah Juwana,
Pati, dan Kudus yang berdekatan dengan Blora. Dan Ja’far sodig merupakan murid
kesayangan dari The Liang Sing.
Maka sangat wajar jika Ja’far Sodik selain mendapatkan ilmu agama, juga
mendapatkan ilmu sosial dan kemasyarakatan, serta ilmu-ilmu yang lain.
Ketika menjadi murid atau santrinya Kyai The Liang Sing, Ja’far Shodiq mula-mula
hidup di tengah-tengah jamaah dalam kelompok kecil. Para pengikutnya itu
merupakan warga setempat yang dipekerjakan Ja'far Shodiq untuk menggarap tanah
ladang. Ini bisa ditafsirkan bahwa Ja'far Shodiq mula-mula hidup dari penghasilan
menggarap lahan pertanian. Setelah jamaahnya makin banyak, Ja'far Shodiq kemudian
membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Tempat ibadah
yang diyakini dibangun oleh Ja'far Shodiq adalah Masjid Menara Kudus, Nama
Ja'far Shodiq tercatat dalam inskripsi masjid tersebut.
Menurut catatan dalam prasasti yang ada di Masjid Menara Kudus, masjid ini
didirikan pada 956 Hijriah, sama dengan 1549 Masehi. Dalam inskripsi terdapat
kalimat berbahasa ArabBatu
prasastinya sendiri berasal dari Baitu Maqdis (Al Quds) di
Yerusalem, Palestina, Adapun bunyi kalimat yang tertera pada batu prasasti
tersebut adalah: Bismillahirrahmanirrahim.
Agama bina al masjid al aqsha wa balad al kuds chalifatu badna dahr habru (
aali ) Muhammad, jasjtari izzan fi djannat al chuldi... qurban min arrahman
bibalaad al kuds ansja’a haddha al masjid al manar al musammabil aqsha
chalifatullahi fil-ardhi... al’ulja wal mudjahid assayyid al ariefal kamil al
fadhi al maqsus bi inajati... al kadhi Dja’far as-Shadiq... sanat sittin wa
chomsina wa tis’imia’atin min al hidjrah annabawiyah wa ashabihi adjmai’in.
Adapun terjemahannya dalam bahasa Indonesia: Dengan nama Allah yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang. Telah didirikan Masjid Aqsha ini dan negeri Kudus
khalifah pada zaman Ulama dari keturunan Muhammad untuk membeli kemuliaan surga
yang kekal. Untuk mendekati Tuhan di negeri Kudus, membina masjid Al-Manar yang
dinamakan Al-Aqsha khalifatullah di bumi ini... yang Agung dan mujtahid sayyid
(tuan) yang arief (maha mengetahui) Kamil (yang sempurna) fadhil (yang
melebihi) al maqsus (yang dikhususkan) bi inajati (dengan pemeliharaaan) al
Kadhi (penghulu hakim) Dja’far Shadiq... pada tahun 956 dari Hijrahnya Nabi
Muhammad Saw.
Dari prasasti tersebut, sangatlah jelas bahwa Ja'far Shodiq menamakan masjid
itu dengan sebutan Aqsa, setara dengan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kota Tajug
juga mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Pada akhirnya,
Ja'far Shodiq sendiri lebih terkenal dengan sebutan Sunan Kudus. Meski namanya
Sunan Kudus, ia bukanlah asli Kudus. Dia datang dari Jipang Panolan ada yang mengatakan
disebelah utara Blora), berjarak 25 kilometer ke arah barat kota Blora, Jawa
Tengah. Di sanalah ia dilahirkan, dan diberi nama Ja'far Shodiq. Ia adalah anak
dari hasil perkawinan Sunan Undung atau Sunan Ngudung (Raden Usman Haji) dengan
Syarifah, cucu Sunan Ampel. Semasa jayanya, Sultan Undung terkenal sebagai
panglima perang yang tangguh. Sampai suatu waktu, Sunan Undung tewas dalam peperangan
antara Demak dan Majapahit.
Setelah itu, Ja'far Shodiq menggantikan posisi ayahnya. Tugas utamanya
ialah menaklukkan wilayah Kerajaan Majapahit untuk memperluas kekuasaan Demak.
Kenyataannya, Ja'far Shodiq terbukti hebat di medan perang, tak kalah dengan
kepiawaian ayahnya. Ja'far Shodiq
berhasil mengembangkan wilayah Kerajaan Demak, ke timur mencapai Madura, dan ke
arah barat hingga Cirebon. “Menurut
catatan kami, Sunan Kudus datang ke bumi nusantara sebanyak dua kali. Pertama
beliau datang ketika masih berusia 22 tahun, karena ada diutus oleh Sultan
Mahmud dari Kesultanan Turki untuk menggantikan kedudukan Syekh Hasanudin yang
meninggal dunia.
Sedangkan kedatanga beliau yang kedua, ketika beliau
usai bermukim di Makkah dalam rangka menuntut ilmu. Ketika beliau sampai di
Tajug (nama aslinya Kudus), beliau bertemu dengan Kyai The Liang Sing. Dan
akhirnya beliau menjadi santrinya. Setelah itu, beliau mendapat amanat dari
Kyai The Liang Sing untuk mengembangkan agama Islam di seluruh wilayah Tajug.
Sebab Kyai Telingsing atau The Liang Sing ini sangat menyukai cara berdakwah Ja’far
Shodiq,”tutur DR. KH. Hamid, M.Pd.I. lagi.
II. Silsilah
a.
S A. Silsilah Raden Ayu Kalinyamatan
Dari catatan yang dimiliki
oleh keturunan Kanjeng Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shodiq, Raden Ayu Mlati sebenarnya
bernama Raden Ayu Kalinyamatan merupakan keturunan ke-6 dari Sunan Kudus dari
putra ke-3 bernama Panembahan Qodhi.
Namun sosok Raden Ayu
Kalinyamatan yang kemudian dikenal dengan sebutan Raden Ayu Mlati tersebut,
bukanlah sosok Ratu Kalinyamat sang legendaris dari Kabupaten Jepara. Selain
kalah dalam pamor, Raden Ayu Kalinyamatan Keturunan ke-6 Sunan Kudus dari Putra
ke-3 bernama Panembahan Qodhi yang dikenal dengan sebutan Raden Ayu Mlati ini
juga kalah dalam hal publikasi. Sehingga tidak banyak orang yang mengetahui
nama asli, silsilah maupun kiprahnya.
b.
Silsilah Ratu Kalinyamat Jepara
Silsilah Ratu Kalinyatamatan atau Ratu Kalinyamat dari Jepara yang
memiliki nama asli Retna Kencana
ini merupakan puteri Sultan Trenggono, Raja Demak
(1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat. Pangeran
Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah
Win-tang, seorang saudagar Tiongkok
yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian
berguru pada Sunan Kudus. Nama aslinya
adalah Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah
Raja Aceh
(1514-1528). Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang
menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk
Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib. Win-tang dan ayah angkatnya kemudian
pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini
berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun
dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil menikahi Retna Kencana
putri bupati Jepara, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat.
Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan
memperoleh gelar Pangeran Hadiri. Pangeran dan
Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat,
dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir
pada penduduk Jepara. Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579. Ia
dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan.
“Sebagai keluarga besar keturunan Sunan Kudus, kami
selalu berpegang pada silsilah keluarga dan menyakini bahwa Raden Ayu Mlati itu
memiliki nama asli Raden Ayu Kalinyamatan. Sehingga Raden Ayu Mlati kurang
pamor dibandingkan Ratu Kalinyamat dari Jepara yang merupakan keturunan Raden
Trenggono tersebut,”imbuh
DR. KH. Hamid, M.Pd.I.
III.
Sejarah
Meskipun kalah pamor dengan Ratu Kalinyamat sang legendaris dari
Kabupaten Jepara, Raden Ayu Kalinyamatan atau yang lebih dikenal dengan nama
Raden Ayu Mlati, tetap selalu dikenang jasa-jasanya oleh masyarakat Kudus
khususnya masyarakat Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus. Disebabkan,
atas usahanyalah masyarakat Mlati Kidul yang mana pada masa Sunan Kudus dikenal
sebagai daerah abangan (tempat bersarangnya para prampok atau begal), akhirnya
sekarang menjadi daerah yang agamis.
Dari cerita rakyat yang berkembang di Mlati Kidul, Raden Ayu Mlati di
dalam berdakwah dibantu oleh Kyai Ibrahim, mantan seorang pimpinan perampok
yang berhasil dikalahkan dan di Islamkan oleh Raden Ayu Mlati. Untuk
mempermudah proses pengislaman masyarakat Mlati Kidul yang saat itu dikenal
abangan, Raden Ayu Mlati menyuruh Kyai Ibrahim untuk berdakwah di dusun Ngasem,
yang mana lokasinya berada di sebelah barat Mlati Kidul yang kemudian dikenal
de\ngan sebutan Asembatur. Sebagaimana dengan para leluhurnya, yaitu Sunan
Kudus, di dalam berdakwah Raden Ayu Mlati ini tutur katanya santun dan memikat
hati para pendengarnya.
Selain itu, Raden Ayu Kalinyamatan dalam berdakwah, menggunakan metode berdakwah sambil mengumandangkan
lagam-lagam jawa hasil kreasi Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Karena piawai di
dalam berdakwah, dalam waktu singkat Mlati Kidul yang masyarakatnya semula
dikenal abangan, menjadi masyarakat yang agamis. Selain dikenal piawai dalam
berdakwah, Raden Ayu Mlati dahulu juga dikenal sebagai seorang pemuka agama
yang adil.
Bilamana ada seorang atau kelompok perampok yang tertangkap ketika
beraksi, tetapi tetap tidak mau mengakui perbuatannya, namun perampok yang
tertangkap saat dihadapkan ke persidangan Raden Ayu Mlati, sang perampok ini
pun tidak bisa berkutik dan mau mengakui
kesalahannya. Dikarenakan sebelum dihadapkan di muka persidangan, perampok
tersebut diberi minum segelas air putih yang berasal dari sumur tulak yang
lokasi sumurnya berada sekitar 100 m arah utara kantor lurah Mlati.
Konon kabarnya, sumur yang airnya dapat dipakai untuk menolak atau
membuka hati kejujuran para pelaku kejahatan tersebut, sumur hasil galian Raden
Ayu Mlati saat Mlati dilanda kekeringan. Namun saat digali, sumur itu tidak
juga mengeluarkan atau memancarkan air sebagaimana yang diharapkan.Untuk
memancing agar air segera memancar keluar dari dalam sumur yang di gali itu,
Raden Ayu Mlati mengambil segelas air dari sumur peninggalan Sunan Kudus di
masjid wali di Desa Nganguk Wali yang berkhasiat dapat membuat seseorang
mengakui perbuatan salahnya, padahal sebelumnya orang tersebut tidak mau
mengakui kesalahannya meskipun telah dilakukan berbagai upaya termasuk
mencambuk orang tersebut.
Di saat Raden Mlati masih hidup, beliau memiliki abdi dalem bernama
Dasimah atau yang di kenal dengan sebutan Nyai Dasimah. Konon kabarnya, Nyai
Dasimah ini merupakan penduduk asli Desa Mlati yang memiliki tutur kata dan
sikap yang baik serta santun. Selain itu, Nyai Dasimah juga suka menolong warga
desa yang sedang membutuhkan bantuannya. Oleh Karena itu, oleh lurah pertama
Mlati Kidul, nama Nyai Dasimah juga diabadikan menjadi salah nama jalan desa di
Kelurahaan Mlati Kidul sebagaimana doro putrinya, yaitu Jalan Nyai Dasimah.
Makam Raden Ayu Mlati terletak di Kelurahan Mlati Kidul Kecamatan Kota
Kudus. Ukuran makam panjangnya 2,60 m, tinggi 1,4 m, panjang bangunan 12,5 m,
lebar bangunan 9 m, panjang cungkup 7,2 m, lebar cungkup 4,87 m dan tinggi
cungkup 1,85 m. Bahan-bahanya terdiri dari bata merah, semen dan kayu jati
kuno. Makam ini dibuat pada jaman kewalian dan kondisinya terawat dengan baik.
Makam ini semula pesarean, namun sekarang menjadi tempat ziarah dan merupakan
milik masyarakat Mlati Kidul.
Di makam Raden Ayu Mlati biasanya ada tradisi semacam buka luwur, tetapi
acara buka luwur di Makam Raden Ayu Mlati diadakan setelah tradisi buka luwur
di Makam Sunan Kudus. Menurut DR. KH. Hamid, M.Pd.I., semasa hidupnya sangat
menyukai masakan nasi kuning, pecel lele, gudangan, jajan pasar dan dawet. “Sebagaimana keturunan Sunan Kudus
lainnya, Raden Ayu Mlati semasa hidupnya ini sangat menyukai masakan lele. Saat ini,
Kelurahan Mlati Kidul yang mana dulunya adalah bagian dari Desa Mlati merupakan
salah satu Kelurahan dari 9 Kelurahan dan 16 Desa di Kecamatan Kota Kudus, yang
terdiri 3 RW dan 19 RT,”jelasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang:
Aneka Ilmu
Andjar Any. 1979. Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon.
Semarang: Aneka Ilmu
Babad Majapahit dan Para Wali Jilid 3. 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007.
Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di
Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI. Jakarta:
Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai
Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja
Mataram. Yogyakarta: Kanisius
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
http://www.wartamadani.com/2013/10/silsilah-dan-asal-usul-sunan-kalijaga.html yang diunggah Senin, 10
Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB
https://mlatikidul.wordpress.com/ yang
diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB
diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kudus#Geografi,
yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar