Pengikut

Senin, 24 Agustus 2015

Babad Tanah Mlati



Cerita Rakyat, Babad Mlati Kidul Kudus :

RADEN AYU MLATI
(Telaah Asal-Usul, Silsilah dan Sejarah)

Oleh :
M. Khoiruz Zad, S.Ag., S.Pd., M.Si



I.     Asal Usul
a.    Asal-usul Nama Desa Mlati
Letak geografis Kabupaten Kudus, Jawa Tengah diantara: 110 36′ BT dan 110 50′ BT dan antara 6 51′ dan 7 16′ LS. Luas Wilayah 42.516 Ha. Jarak terjauh dari barat ke timur sepanjang 16 Km dan dari Utara ke Selatan sepanjang 22 Km. Ketinggian Wilayah rata-rata ± 55 m diatas permukaan air laut. Iklim tropis, temperatur sedang. Curah Hujan ± 2500 mm/thn ± 132 hari/tahun.
Batas Wilayah
Utara               : Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati
Timur              : Kabupaten Pati
Selatan            : Kabupaten Grobogan dan Pati
Barat               : Kabupaten Demak dan Kabupaten Jepara
Letak geografis Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus diantara 110 38’ BT dan 110 44’ BT (Bujur Timur) 74’ LS dan 78’ LS (Lintang Selatan). Batas wilayahnya, yaitu:
Selatan            :  Kecamatan Jati
Utara               :  Kecamatan Bae
Timur              :  Kecamatan Jati dan Bae
Barat               :  Kecamatan Kaliwungu
Kecamatan Kota Kudus beriklim tropis dengan cuaca panas. Banyaknya Curah hujan 94 mm/th. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Kota adalah 34 derajat celcius dan suhu terendah 22 derajat celcius. Bentangan wilayah di Kecamatan Kota 100 % berupa daerah yang datar sampai berombak.
Kabupaten Kudus sampai sekarang ini, konon memiliki ratusan peninggalan sejarah, dan cerita rakyat atau mitos yang mengiringi penamaan masing-masing desa yang ada. Salah satunya adalah penaamaan tiga desa yang menggunakan nama melati atau mlati, yang meliputi Desa Mlati Kidul, Mlati Lor dan Mlati Norowito. Berikut ini, mitos yang berkembang di masyarakat yang mewarnai proses penamaan Desa Mlati oleh Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shodiq.
Menurut cerita rakyat yang berkembang, keberadaan Desa Mlati pada era Sunan Kudus, diawali dengan pencarian Sunan Kudus akan sebuah bunga yang dapat menyembuhkan penyakit kulit yang saat itu tengah merebak dan menjangkiti para santri yang bermukim di padepokan atau pesantrennya Sunan Kudus. Di saat Sunan Kudus beristirahat usai menunaikan ibadah sholat Subuh di tepi sungai sebelah timur pesantrennya, tiba-tiba tercium aroma yang sangat wangi. Karena penasaran Sunan Kudus lalu melanjutkan perjalanan ke arah timur, beberapa saat kemudian, sampailah Sunan Kudus tiba di suatu desa yang banyak ditumbuhi tanaman bunga berwarna putih dengan bau yang harum.
Saat akan memasuki sebuah pekarangan rumah yang banyak ditumbuhi tanaman bunga tersebut, tiba-tiba munculah seorang laki-laki tua dari dalam rumah yang langsung menyapa,“Maaf kisanak, kisanak siapa dan mau apa masuk ke pekarangan rumah saya?”tanya si pemilik rumah kepada Sunan Kudus sambil mempersilahkan Sunan Kudus masuk ke rumahnya. “Maaf Pak, saya seorang pengembara dari perdikan Kudus mau mencari asal-usul bau yang aromanya tercium wangi sampai di perdikan saya. Ternyata bau tersebut berasal dari tanaman bunga yang banyak tumbuh di desa ini. Kalau boleh saya tahu, apa nama bunga itu pak tua?”jawab Sunan Kudus sembari balik bertanya kepada laki-laki tua tersebut. “Ooo bunga ini yang kisanak maksudkan.
Bunga ini namanya adalah Melati, baunya memang harum, sehingga warga desa sini sangat menyukai bunga ini dan hampir semua warga memilikinya. Selain Melati ini memiliki bau yang harum, juga dinyakini warga desa dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Salah satunya penyakit kulit,”jawab Pak Tua lagi. “Apa betul itu Pak Tua? Kalau diizinkan, bolehkah saya minta beberapa tangkai bunga milik Pak Tua? Kebetulan para santri saya, saat ini tengah dijangkiti kusta. Dan kelak dalam rejoning zaman, desa ini akan dikenal dengan sebutan Desa Mlati,”tanya Sunan Kudus lagi sembari memberitahu Pak Tua tersebut bahwa kelak desa tempat tinggalnya bernama Melati atau Mlati.
“Boleh kisanak, silahkan ambil sebanyak yang kisanak butuhkan,”jawab laki-laki tua itu sambil mempersilahkan Sunan Kudus mengambil beberapa tangkai tanaman miliknya. Setelah memetik beberapa tangkai Mlati, Sunan Kudus pun minta izin pulang kembali ke padepokannya. Betul juga, sesampainya di padepokan, ternyata setelah diolesi ramuan obat dengan bahan dasar tanaman tersebut penyakit kulit yang diderita para santrinya berangsur-angsur hilang, dan akhirnya para santrinya pun sembuh dari sakitnya.
Dalam rejoning zaman, akhirnya desa tempat tinggal Pak Tua dikenal dengan sebutan Desa Mlati. Dan Oleh Penjajah Kolonial Belanda, Desa Mlati dipecah menjadi tiga.Yaitu Desa Mlati Kidul, Mlati Lor dan Mlati Norowito. Dari blog milik Kantor Lurah Mlati Kidul, yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 pukul 10.15 WIB diketahui bahwa, pada tahun 1981 Desa Mlati Kidul berubah status menjadi Kelurahan Mlati Kidul dengan Lurah Pertama bernama Soedarno yang menjabat dari tahun 1981-1990.

b.   Asal-Usul Makam Raden Ayu Mlati 
Bagi masyarakat Kelurahaan Mlati Kidul sekarang ini, tentu semuanya paham dan tahu, di mana letak makam Raden Ayu Mlati? Dan tidaklah sulit untuk menemukannya. Sayangnya ketika mereka ditanya asal usul tokoh penyebar agama Islam pertama di Mlati Kidul dan sekitarnya, tidak banyak yang tahu. Dikarenakan, belum banyak buku yang menjelaskan secara lengkap tentang sejarah maupun silsilahnya. Dalam dokumen milik keluarga Sunan Kudus, Raden Ayu Mlati memiliki nama asli Raden Ayu Kalinyamatan. 
       Adapun makamnya terletak di sebelah timur sekitar 250 meter dari Kantor Balai Kelurahan Mlati Kidul. Tetapi untuk menceritakan asal-usul Raden Ayu Mlati yang sebenarnya, tidaklah sempurna jika tidak didahului dengan menjelaskan silsilah leluhurnya, yaitu Sunan Kudus. Perlu diketahui, silsilah Sunan Kudus sebagaimana yang penulis uraikan tersebut, bukanlah silsilah sebagaimana aslinya. Tetapi silsilah yang sudah dirubah sedemikian rupa, namun tidak meninggalkan esensi daftar keturunan yang ada sebagaimana silsilah yang tertera di buku Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647.
Berdasarkan cerita rakyat yang sampai saat ini masih dipercayai, Indonesia pada zaman Wali Songgo dahulu dikenal dengan sebutan tanah nusantara. Begitu juga pada zamannya para Wali Songgo, dari silsilah Sunan Kudus tersebut yang tertera pada Buku Babad Tanah Jawi, dapat diketahui semua wali songgo bernasab sampai Nabi Muhammad SAW, tidak terkecuali Sunan Kalijaga, Raden Mas Syahid dan Sunan Muria, Raden Mas Umar Said. Menurut buku “De Hedramaut et les colonies Arabies danS’l Archipel Indien” Karya Mr. CL.N. Van den Berg, Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab asli. Tidak hanya sunan Kalijaga akan tetapi semua wali yang ada di Jawa adalah keturunan Arab.

1)               1)  Kedatangan Sunan Kudus Yang Pertama
Menurut penuturan salah seorang keturunan Sunan Kudus, DR. KH. Hamid, M.Pd.I., kedatangan Sayyid Ja’far Shodiq ke tanah nusantara karena di suruh oleh Sultan Mahmud dari Kesultanan Turki menggantikan Syekh Hasanuddin yang meninggal dunia. Kedatangan pertama Sayyid Ja’far Shodiq ke tanah nusantara yang pertama saat beliau masih berusia 22 tahun. Namun karena merasa pengetahuan Agama Islamnya masih kurang, Sayyid Ja’far Shodiq kembali lagi ke Turki dan pergi untuk menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim di Makkah selama beberapa tahun dengan tujuan memperdalam berbagai ilmu agama Islam.
2)               2)  Kedatanagan Sunan Kudus Yang Kedua
Setelah berapa tahun bermukim di Makkah, Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) ini pun kembali ke tanah nusantara. Sesampainya di tanah nusantara dan menginjakkan kakinya di Kudus, kota tersebut masih bernama Tajug. Menurut Buku Babad Tanah Jawa, Jafar Shodiq meninggalkan Kerajaan Demak karena alasan pribadi semata, yaitu karena beliau ingin hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama Islam. Sampai akhirnya Jafar Sodiq tiba pada sebuah desa kecil bernama Sunggingan. Pemilik Desa Sunggingan tersebut bernama The Liang Sing, yaitu seorang pedagang Cina yang dalam cerita terdahulu bernama Sun Ging.
Beliau dulu pernah berjasa kepada Kerajaan Majapahit untuk mengukir hiasan-hiasan kraton sehingga diberi hadiah berupa sebidang tanah kecil yang akhirnya diberi nama Desa Sunggingan karena berasal dari nama pemiliknya Sun Ging yang berarti tempat tinggal keluarga Sun Ging orang Cina beragama Islam yang datang ke tanah nusantara bersama Laksamana Cheng Hoo. Ketika itu laksamana Cheng hoo berlayar dari negeri satu ke negeri lainnya. Di samping itu, Laksamana Cheng Hoo juga mempunyai visi untuk menyebarkan Islam di wilayah Asia Tenggara. Dalam pelayarannya, ia mendarat di pelabuhan Semarang. 
The Liang Sing ikut serta dalam rombongan Cheng Hoo. Dalam perjalanannya, akhirnya ia sampai di Blora, Jawa Tengah. Kemudian ia mengembangkan dakwah Islam di daerah Juwana, Pati, dan Kudus yang berdekatan dengan Blora. Dan Ja’far sodig merupakan murid kesayangan dari The Liang Sing. Maka sangat wajar jika Ja’far Sodik selain mendapatkan ilmu agama, juga mendapatkan ilmu sosial dan kemasyarakatan, serta ilmu-ilmu yang lain.
Ketika menjadi murid atau santrinya Kyai The Liang Sing, Ja’far Shodiq mula-mula hidup di tengah-tengah jamaah dalam kelompok kecil. Para pengikutnya itu merupakan warga setempat yang dipekerjakan Ja'far Shodiq untuk menggarap tanah ladang. Ini bisa ditafsirkan bahwa Ja'far Shodiq mula-mula hidup dari penghasilan menggarap lahan pertanian. Setelah jamaahnya makin banyak, Ja'far Shodiq kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Ja'far Shodiq adalah Masjid Menara Kudus, Nama Ja'far Shodiq tercatat dalam inskripsi masjid tersebut.  
Menurut catatan dalam prasasti yang ada di Masjid Menara Kudus, masjid ini didirikan pada 956 Hijriah, sama dengan 1549 Masehi. Dalam inskripsi terdapat kalimat berbahasa ArabBatu prasastinya sendiri berasal dari Baitu Maqdis (Al Quds) di Yerusalem, Palestina, Adapun bunyi kalimat yang tertera pada batu prasasti tersebut adalah: Bismillahirrahmanirrahim. Agama bina al masjid al aqsha wa balad al kuds chalifatu badna dahr habru ( aali ) Muhammad, jasjtari izzan fi djannat al chuldi... qurban min arrahman bibalaad al kuds ansja’a haddha al masjid al manar al musammabil aqsha chalifatullahi fil-ardhi... al’ulja wal mudjahid assayyid al ariefal kamil al fadhi al maqsus bi inajati... al kadhi Dja’far as-Shadiq... sanat sittin wa chomsina wa tis’imia’atin min al hidjrah annabawiyah wa ashabihi adjmai’in.
Adapun terjemahannya dalam bahasa Indonesia: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Telah didirikan Masjid Aqsha ini dan negeri Kudus khalifah pada zaman Ulama dari keturunan Muhammad untuk membeli kemuliaan surga yang kekal. Untuk mendekati Tuhan di negeri Kudus, membina masjid Al-Manar yang dinamakan Al-Aqsha khalifatullah di bumi ini... yang Agung dan mujtahid sayyid (tuan) yang arief (maha mengetahui) Kamil (yang sempurna) fadhil (yang melebihi) al maqsus (yang dikhususkan) bi inajati (dengan pemeliharaaan) al Kadhi (penghulu hakim) Dja’far Shadiq... pada tahun 956 dari Hijrahnya Nabi Muhammad Saw.
Dari prasasti tersebut, sangatlah jelas bahwa Ja'far Shodiq menamakan masjid itu dengan sebutan Aqsa, setara dengan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kota Tajug juga mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Pada akhirnya, Ja'far Shodiq sendiri lebih terkenal dengan sebutan Sunan Kudus. Meski namanya Sunan Kudus, ia bukanlah asli Kudus. Dia datang dari Jipang Panolan ada yang mengatakan disebelah utara Blora), berjarak 25 kilometer ke arah barat kota Blora, Jawa Tengah. Di sanalah ia dilahirkan, dan diberi nama Ja'far Shodiq. Ia adalah anak dari hasil perkawinan Sunan Undung atau Sunan Ngudung (Raden Usman Haji) dengan Syarifah, cucu Sunan Ampel. Semasa jayanya, Sultan Undung terkenal sebagai panglima perang yang tangguh. Sampai suatu waktu, Sunan Undung tewas dalam peperangan antara Demak dan Majapahit.
Setelah itu, Ja'far Shodiq menggantikan posisi ayahnya. Tugas utamanya ialah menaklukkan wilayah Kerajaan Majapahit untuk memperluas kekuasaan Demak. Kenyataannya, Ja'far Shodiq terbukti hebat di medan perang, tak kalah dengan kepiawaian  ayahnya. Ja'far Shodiq berhasil mengembangkan wilayah Kerajaan Demak, ke timur mencapai Madura, dan ke arah barat hingga Cirebon. “Menurut catatan kami, Sunan Kudus datang ke bumi nusantara sebanyak dua kali. Pertama beliau datang ketika masih berusia 22 tahun, karena ada diutus oleh Sultan Mahmud dari Kesultanan Turki untuk menggantikan kedudukan Syekh Hasanudin yang meninggal dunia.
Sedangkan kedatanga beliau yang kedua, ketika beliau usai bermukim di Makkah dalam rangka menuntut ilmu. Ketika beliau sampai di Tajug (nama aslinya Kudus), beliau bertemu dengan Kyai The Liang Sing. Dan akhirnya beliau menjadi santrinya. Setelah itu, beliau mendapat amanat dari Kyai The Liang Sing untuk mengembangkan agama Islam di seluruh wilayah Tajug. Sebab Kyai Telingsing atau The Liang Sing ini sangat menyukai cara berdakwah Ja’far Shodiq,”tutur DR. KH. Hamid, M.Pd.I. lagi.

II.  Silsilah
a.    S     A. Silsilah Raden Ayu Kalinyamatan
Dari catatan yang dimiliki oleh keturunan Kanjeng Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shodiq, Raden Ayu Mlati sebenarnya bernama Raden Ayu Kalinyamatan merupakan keturunan ke-6 dari Sunan Kudus dari putra ke-3 bernama Panembahan Qodhi.
Namun sosok Raden Ayu Kalinyamatan yang kemudian dikenal dengan sebutan Raden Ayu Mlati tersebut, bukanlah sosok Ratu Kalinyamat sang legendaris dari Kabupaten Jepara. Selain kalah dalam pamor, Raden Ayu Kalinyamatan Keturunan ke-6 Sunan Kudus dari Putra ke-3 bernama Panembahan Qodhi yang dikenal dengan sebutan Raden Ayu Mlati ini juga kalah dalam hal publikasi. Sehingga tidak banyak orang yang mengetahui nama asli, silsilah maupun kiprahnya.
b.   Silsilah Ratu Kalinyamat Jepara
Silsilah Ratu Kalinyatamatan atau Ratu Kalinyamat dari Jepara yang memiliki nama asli Retna Kencana ini merupakan puteri Sultan Trenggono, Raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat. Pangeran Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang saudagar Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Sunan Kudus. Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah Raja Aceh (1514-1528). Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib. Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri bupati Jepara, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri. Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara. Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579. Ia dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan.

“Sebagai keluarga besar keturunan Sunan Kudus, kami selalu berpegang pada silsilah keluarga dan menyakini bahwa Raden Ayu Mlati itu memiliki nama asli Raden Ayu Kalinyamatan. Sehingga Raden Ayu Mlati kurang pamor dibandingkan Ratu Kalinyamat dari Jepara yang merupakan keturunan Raden Trenggono tersebut,”imbuh DR. KH. Hamid, M.Pd.I.



III.   Sejarah
Meskipun kalah pamor dengan Ratu Kalinyamat sang legendaris dari Kabupaten Jepara, Raden Ayu Kalinyamatan atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Ayu Mlati, tetap selalu dikenang jasa-jasanya oleh masyarakat Kudus khususnya masyarakat Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus. Disebabkan, atas usahanyalah masyarakat Mlati Kidul yang mana pada masa Sunan Kudus dikenal sebagai daerah abangan (tempat bersarangnya para prampok atau begal), akhirnya sekarang menjadi daerah yang agamis.
Dari cerita rakyat yang berkembang di Mlati Kidul, Raden Ayu Mlati di dalam berdakwah dibantu oleh Kyai Ibrahim, mantan seorang pimpinan perampok yang berhasil dikalahkan dan di Islamkan oleh Raden Ayu Mlati. Untuk mempermudah proses pengislaman masyarakat Mlati Kidul yang saat itu dikenal abangan, Raden Ayu Mlati menyuruh Kyai Ibrahim untuk berdakwah di dusun Ngasem, yang mana lokasinya berada di sebelah barat Mlati Kidul yang kemudian dikenal de\ngan sebutan Asembatur. Sebagaimana dengan para leluhurnya, yaitu Sunan Kudus, di dalam berdakwah Raden Ayu Mlati ini tutur katanya santun dan memikat hati para pendengarnya.
Selain itu, Raden Ayu Kalinyamatan dalam berdakwah,  menggunakan metode berdakwah sambil mengumandangkan lagam-lagam jawa hasil kreasi Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Karena piawai di dalam berdakwah, dalam waktu singkat Mlati Kidul yang masyarakatnya semula dikenal abangan, menjadi masyarakat yang agamis. Selain dikenal piawai dalam berdakwah, Raden Ayu Mlati dahulu juga dikenal sebagai seorang pemuka agama yang adil.
Bilamana ada seorang atau kelompok perampok yang tertangkap ketika beraksi, tetapi tetap tidak mau mengakui perbuatannya, namun perampok yang tertangkap saat dihadapkan ke persidangan Raden Ayu Mlati, sang perampok ini pun tidak bisa berkutik dan mau  mengakui kesalahannya. Dikarenakan sebelum dihadapkan di muka persidangan, perampok tersebut diberi minum segelas air putih yang berasal dari sumur tulak yang lokasi sumurnya berada sekitar 100 m arah utara kantor lurah Mlati.
Konon kabarnya, sumur yang airnya dapat dipakai untuk menolak atau membuka hati kejujuran para pelaku kejahatan tersebut, sumur hasil galian Raden Ayu Mlati saat Mlati dilanda kekeringan. Namun saat digali, sumur itu tidak juga mengeluarkan atau memancarkan air sebagaimana yang diharapkan.Untuk memancing agar air segera memancar keluar dari dalam sumur yang di gali itu, Raden Ayu Mlati mengambil segelas air dari sumur peninggalan Sunan Kudus di masjid wali di Desa Nganguk Wali yang berkhasiat dapat membuat seseorang mengakui perbuatan salahnya, padahal sebelumnya orang tersebut tidak mau mengakui kesalahannya meskipun telah dilakukan berbagai upaya termasuk mencambuk orang tersebut.
Di saat Raden Mlati masih hidup, beliau memiliki abdi dalem bernama Dasimah atau yang di kenal dengan sebutan Nyai Dasimah. Konon kabarnya, Nyai Dasimah ini merupakan penduduk asli Desa Mlati yang memiliki tutur kata dan sikap yang baik serta santun. Selain itu, Nyai Dasimah juga suka menolong warga desa yang sedang membutuhkan bantuannya. Oleh Karena itu, oleh lurah pertama Mlati Kidul, nama Nyai Dasimah juga diabadikan menjadi salah nama jalan desa di Kelurahaan Mlati Kidul sebagaimana doro putrinya, yaitu Jalan Nyai Dasimah.
Makam Raden Ayu Mlati terletak di Kelurahan Mlati Kidul Kecamatan Kota Kudus. Ukuran makam panjangnya 2,60 m, tinggi 1,4 m, panjang bangunan 12,5 m, lebar bangunan 9 m, panjang cungkup 7,2 m, lebar cungkup 4,87 m dan tinggi cungkup 1,85 m. Bahan-bahanya terdiri dari bata merah, semen dan kayu jati kuno. Makam ini dibuat pada jaman kewalian dan kondisinya terawat dengan baik. Makam ini semula pesarean, namun sekarang menjadi tempat ziarah dan merupakan milik masyarakat Mlati Kidul.
Di makam Raden Ayu Mlati biasanya ada tradisi semacam buka luwur, tetapi acara buka luwur di Makam Raden Ayu Mlati diadakan setelah tradisi buka luwur di Makam Sunan Kudus. Menurut DR. KH. Hamid, M.Pd.I., semasa hidupnya sangat menyukai masakan nasi kuning, pecel lele, gudangan, jajan pasar dan dawet. “Sebagaimana keturunan Sunan Kudus lainnya, Raden Ayu Mlati semasa hidupnya ini sangat menyukai masakan lele. Saat ini, Kelurahan Mlati Kidul yang mana dulunya adalah bagian dari Desa Mlati merupakan salah satu Kelurahan dari 9 Kelurahan dan 16 Desa di Kecamatan Kota Kudus, yang terdiri 3 RW dan 19 RT,”jelasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
Andjar Any. 1979. Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
Babad Majapahit dan Para Wali Jilid 3. 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
Kerajaan di Jawa
http://www.wartamadani.com/2013/10/silsilah-dan-asal-usul-sunan-kalijaga.html yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB
https://mlatikidul.wordpress.com/ yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB
         diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kudus#Geografi, yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar