Pengikut

Jumat, 28 Agustus 2015

Visi, Misi dan Tujuan



NGO Internasional :

THE ADZKA FOUNDATION

Visi :
“Terciptanya Kader Bangsa Yang Memiliki Ketaqwaan Kepada Tuhan YME, Berjiwa Nasionalis, Ber-SDM Tinggi Dan Toleran Antar Umat Beragama”

Misi :
1.      Membantu Terciptanya Kader Bangsa Yang Memiliki Ketaqwaan Kepada Tuhan YME.
2.   Membantu Terciptanya Kader Bangsa Yang Ber-SDM Tinggi melalui Pembukaan Sistem Pendidikan Berbasis Home Schooling.   
3.      Membantu Terciptanya Toleransi Antar Umat Beragama.
4.      Membantu pemerintah dalam menciptakan keseimbangan alam, habitat hidup, flora, fauna, di seluruh wilayah Indonesia.
5.      Membantu Anggota Masyarakat Untuk Menumbuhkembangkan Semangat Dan
     Kehidupan Berwiraswasta Melalui Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah, Perdagangan, Pertanian, Perikanan, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan.
6. Membantu dan Membina Masyarakat Dalam Menumbuhkembangkan kesadaran Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Serta Memiliki Semangat Nasionalisme dan Patriotisme Untuk Menuju Masyarakat Indonesia Yang Pancasilais,


Tujuan Berdirinya


NGO Internasional

THE ADZKA FOUNDATION
 

di landasi oleh :

1.    Rasa keprehatinan generasi muda Indonesia terhadap maraknya praktek premanis, sparatisme, SARAisme dan Terorisme yang Mencoba Menghancurkan Bangsa Indonesia yang diakibatkan adanya permainan Spionase Negara Asing.
2.      Rasa keprehatinan generasi muda Indonesia terhadap kesenjangan sosial para kaum miskin kota sehingga mereka tidak mendapatkan kehidupan, kesejahteraan dan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka.
3.     Rasa keprehatinan generasi muda Indonesia terhadap mulai lunturnya sikap nasionalisme warga Negara.
4.    Rasa keprehatinan generasi muda Indonesia terhadap upaya penjualan aset Negara yang berupa pulau-pulau yang tidak berpenghuni.
5.     Rasa keprehatinan generasi muda Indonesia terhadap ketidakberdayaan Negara dalam mengatasi penguasaan secara ilegal terhadap pulau-pulau terluar oleh Negara asing akibat perselisihan batas negara

Selasa, 25 Agustus 2015

Mutiara Hatiku

 Foto : 
Muhammad Muizuddin Adzka

Foto :
Tifatul Navieza Mumtaz

MUTIARA HATIKU

Wahai mutiara-mutiara hidupku
Lekaslah kalian besar
Tataplah masa depan dengan senyumanmu
Agar kalian bisa menjadi anak-anak yang pintar

              Wahai mutiara-mutiara hidupku
              Teruskanlah perjuangan kami dalam menyebarkan ajaran Islam
              Janganlah kalian goyah oleh bujukan musuh-musuh Islam
              Yang mengiming-imingi kenikmatan dunia

Wahai mutiara-mutiara hidupp[;'\ku
Satukan langkah kalian
Jangan saling cerai berai
Musuh abadi Islam amatlah nyata
Jangan gentar
Jangan takut
Kami selalu berdoa untuk kalian

             Wahai mutiara-mutiara hidupku
             Pandanglah dunia dengan senyuman
             Bukan memandang dunia dengan air mata
             Sekali Islam Ala Ahlussunah wal jama'ah
             Sampai mati tetap Islam Ala Ahlussunah wal jama'ah 

(Karya: M. Khoiruz Zad) 

Kutbah Jum'at

HATI YANG ISTIQOMAH

 Oleh
 Abu Farwa Husnul Yaqin

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.


Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia, dan di hari yang mulia ini, marilah kita selalu menjaga dan meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang dibangun karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala dan bukan keridhaan manusia, ketakwaan yang dilandasi karena ilmu yang bersumber dari al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah, dan ketakwaan yang dibuktikan dengan amal perbuatan dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan NabiNya karena mengharap rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan Allah dan NabiNya karena takut terhadap azab dan siksa Allah Subhanahu Wata’ala.
Thalq bin Habib Rahimahullah seorang tabi'in, suatu ketika pernah menuturkan sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Fatawanya,

اَلتَّقْوَى: أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله ، تَرْجُو رَحْمَة َالله وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ الله ، تَخَافَ عَذَابَ الله.
"Takwa adalah kamu mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, kamu mengharapkan rahmat Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah, serta kamu takut azab Allah."
Demikianlah seharusnya yang selalu ada dan tumbuh dalam benak dan hati setiap Muslim, sehingga akan membawa dampak dan bekas yang baik, melahirkan pribadi-pribadi yang istiqamah dan iltizam (konsisten) terhadap agamanya sehingga pada akhirnya akan membentuk keluarga dan komunitas masyarakat yang senantiasa berjalan di atas manhaj dan jalan yang lurus. Dengan demikian, Allah Subhanahu Wata’ala akan memberikan kehidupan yang baik di dunia serta memberikan balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah diperbuat di akhirat kelak sebagaimana yang telah Allah Subhanahu Wata’ala janjikan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sebenarnya yang menjadi pangkal utama sehingga seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan memperoleh rahmat Allah Subhanahu Wata’ala serta selamat dari azabNya pada Hari Kiamat kelak adalah sejauh mana dia dapat menjaga dan memelihara hatinya sehingga selalu condong dan mempunyai ketergantungan hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai satu-satunya dzat yang selalu membolak-balikkan hati setiap hambaNya sesuai dengan kehendakNya, dan bukan justru sebaliknya, di mana hatinya selalu condong kepada hawa nafsunya dan tipu daya setan laknatullah alaihi. Karena pada dasarnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan melihat ketampanan dan kecantikan wajah kita, tidak pula melihat kemulusan dan kemolekan badan-badan kita, namun Allah Subhanahu Wata’ala hanya akan melihat hati-hati kita dan amal perbuatan kita. Manakala hati seseorang bersih, maka akan membawa dampak kepada kebaikan seluruh anggota tubuhnya, begitu sebaliknya jika hati seseorang telah rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuhnya, sebagaimana hal ini pernah diisyaratkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, 1/20.

أَلاَ، وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh dan jika rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. al-Bukhari).
Karena itulah ma'asyiral Muslimin, hati mempunyai peranan yang sangat fital dalam diri seseorang dan menjadi sentral bagi anggota tubuh lainnya sehingga keberadaannyalah yang dapat menentukan baik buruk dan hitam putihnya seluruh amalan dan aspek kehidupan seorang Muslim.
Tentu yang demikian tidak sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan manusia, khususnya kaum Muslimin di mana kalau kita perhatikan kondisi kebanyakan mereka, niscaya kita akan menyaksikan suatu fenomena yang sangat memprihatinkan dan me-nyedihkan. Mereka memahami bahwa tolak ukur kebahagiaan seseorang sekedar dengan penampilan lahiriyah dan materi belaka, sehingga mereka sibuk dengan kehidupan dunianya, memperkaya diri, memperindah dan mempercantik diri dengan berbagai macam bentuk keindahan dunia, namun pada saat yang sama, mereka lalai dan lupa dengan keindahan, kebersihan, serta kesucian batin yang pada akhirnya justru dapat menyelamatkan mereka; baik di dunia maupun di akhirat kelak. Marilah kita renungkan sebuah ayat sebagai bantahan Allah terhadap mereka, sebagaimana Firman-Nya :

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِءْيًا
"Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata." (Maryam: 74).
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَءَاثَارًا فِي اْلأَرْضِ فَمَآأَغْنَى عَنْهُم مَّاكَانُوا يَكْسِبُون.
"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." (Al-Mu`min: 82).
Dua ayat di atas, cukuplah memberikan penjelasan dan informasi kepada kita bahwa segala sesuatu yang mereka usahakan dan mereka nikmati ternyata tidak berguna dan tidak dapat menyelamatkan mereka. Na'udzubillahi min dzalik.

Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Oleh karenanya, keindahan batin dan keselamatan hati merupakan dasar dan pondasi keberuntungan di dunia dan di Hari Kiamat kelak. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

يَابَنِى ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ ءَايَاتِ ِالله لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." (Al-A'raf: 26).
Sesungguhnya perkara hati merupakan perkara agung dan kedudukannya pun sangat mulia, sehingga Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan kitab-kitab suciNya untuk memperbaiki hati, dan Dia utus para Rasul untuk menyucikan hati, membersihkan, dan memperindahnya. Demikianlah Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57).
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

لَقَدْ مَنَّ ِالله عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (keda-tangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Ali Imran: 164).
Ajaran yang paling besar yang dibawa oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah memperbaiki hati. Maka tidak ada cara untuk menyucikan dan memperbaiki hati kecuali cara yang telah ditempuh oleh beliau Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dengan demikian seseorang akan memahami bahwa hatinya merupakan tempat bagi cahaya dan petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala, yang dengannya seseorang dapat mengenal Rabbnya, mengenal nama-namaNya dan sifat-sifatNya, serta dapat menghayati ayat-ayat syar'iyah Allah, dengannya seseorang dapat merenungkan ayat-ayat kauniyahNya serta dengannya seseorang dapat menempuh perjalanan menuju akhirat, karena sesungguhnya perjalanan menuju Allah Subhanahu Wata’ala adalah perjalanan hati dan bukan perjalanan jasad.
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menuturkan di dalam salah satu kitab beliau, "Hati yang sehat, yaitu hati yang selalu terjaga dari syirik, sifat dengki, iri hati, kikir, takabur, cinta dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang akan menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wata’ala. Ia selamat dari setiap syubhat yang menghadangnya. Ia terhindar dari intaian syahwat yang menentang jati dirinya, dan ia terbebas dari segala keinginan yang akan menyesaki tujuannya. Ia akan terbebas dari segala penghambat yang akan menghalanginya dari jalan Allah. Inilah hati yang sehat di surga dunia dan surga di alam kubur, serta surga di Hari Kiamat. Keselamatan hati tidak akan terwujud, kecuali dengan terjaga dari lima perkara, yaitu syirik yang bertentangan dengan tauhid, dari bid'ah yang berhadapan dengan sunnah, dari syahwat yang menghambat urusannya, dari ghaflah (kelalaian) yang menghilangkan dzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dari hawa nafsu yang akan menghalangi ikhlash." (al-Jawab al-Kafi, 1/176).
Ibnu Rajab al-Hanbali pernah berkata, "Keutamaan itu tidak akan diraih dengan banyaknya amal jasmani, akan tetapi diraih dengan ketulusan niat kepada Allah Subhanahu Wata’ala benar, lagi sesuai dengan sunnah Nabi dan dengan banyaknya pengetahuan dan amalan hati." (Mahajjah fi Sair ad-Daljah, hal. 52).
Ini semua menunjukkan bahwa dasar keimanan atau kekufuran, hidayah atau kesesatan, keberuntungan atau kenistaan tergantung pada apa yang tertanam di dalam hati seorang hamba.
Abu Hurairah pernah menuturkan, bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ، وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ.
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia melihat kepada hati kamu, kemudian menunjuk ke dadanya dengan telunjuknya." (HR. Muslim, no. 2564).
Bahkan, mayoritas ulama berkeyakinan bahwa siapa saja yang dipaksa untuk menyatakan "kekufuran", maka ia tidak berdosa selagi hatinya masih tetap teguh beriman kepada Islam dan tetap dalam kondisi tenang beriman, sebagaimana FirmanNya :

مَن كَفَرَ بلله مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ ِالله وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ . ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ الله َ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak ber-dosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan dia mendapat azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir." (An-Nahl: 106-107).
Ayat ini diturunkan, sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir adalah berkenaan dengan kejadian yang menimpa Ammar bin Yasir, manakalah ia masuk Islam, ia mendapat siksaan dari orang-orang kafir Quraisy di Makkah sehingga ia mau mengucapkan kalimat kekufuran kepada Allah dan cacian kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di lain kesempatan peristiwa tersebut ia laporkan kepada Rasu-lullah sambil menangis.

قَالَ: كَيْفَ تَجِدُ قَلْبَكَ؟ قَالَ: مُطْمَئِنًّا بِالْإِيْمَانِ. قَالَ: إِنْ عَادُوْا فَعُدْ.
"... maka Nabi bersabda, 'Bagaimana kondisi hatimu?' Ia menjawab, 'Aku masih tenang dalam beriman.' Maka Nabi bersabda (untuk menggembirakannya dan memberinya kemudahan), 'Kalau mereka kembali menyiksa, maka silahkan lakukan lagi'." (HR. al-Hakim, 2/357).
Di dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Anas bin Malik,

لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ.
"Iman seseorang tidak akan lurus (benar) sebelum hatinya lurus." (HR. Ahmad, no. 13079).

Ma'asyiral Muslimin Sidang Jum'ah Rahimakumullah
Demikian agungnya keutamaan dan urgensi hati seseorang di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga kita dapat mengetahui kebanyakan sumpah Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam diucapkan dengan ungkapan,

لَا، وَمُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ.
"Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati."
Dan di antara doa beliau adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
"Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu."
Hal yang demikian, karena pada dasarnya kadangkala hati seseorang bisa mengeras, seperti batu atau bahkan lebih keras dari itu, sehingga ia akan jauh dari Allah Subhanahu Wata’ala, rahmatNya, dan dari ketaatanNya. Dan sejauh-jauh hati dari Allah Subhanahu Wata’ala adalah hati yang kasar, di mana peringatan tidak lagi bermanfaat baginya, nasihat tidak dapat menjadikan dia lembut, perkataan tidak menjadikannya berilmu, sehingga seseorang yang memiliki hati yang demikian di dalam dadanya, maka hatinya tidak memberikan manfaat apa-apa baginya, dan tidak akan melahirkan sesuatu pun, kecuali kejahatan. Sebaliknya hati yang lembut, yang takut dan tunduk merendahkan diri terhadap Penciptanya, Allah Subhanahu Wata’ala, serta selalu mendekatkan diri kepadaNya, mengharapkan rahmatNya dan menjaga ketaatanNya, maka pemiliknya akan mempunyai hati yang bersih, selalu menerima kebaikan.
Maka dari itulah, Allah Subhanahu Wata’ala menggarisbawahi bahwa keselamatan di Hari Kiamat kelak sangat tergantung kepada keselamatan, kebersihan, dan kebaikan hati. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى ِالله بِقَلْبٍ سَلِيم
"Di hari yang mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara` : 88 - 89).
Dengan demikian, marilah kita bersungguh-sungguh dalam menjaga hati dan senantiasa mengawasinya, di mana dan kapan saja waktunya, karena ia satu-satunya anggota tubuh kita yang paling besar bahayanya, paling mudah pengaruhnya, dan paling sulit mengurus dan memperbaikinya. Wallahul musta'an.

اللهم أَصْلِحْ شَأْنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاهْدِهِمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ، اللهم ارْزُقْهُمْ رِزْقًا مُبَارَكًا طَيِّبًا. اللهم أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
فَاتَّقُوا الله عِبَادَ ِالله ، وَخُذُوْا بِالْأَسْبَابِ الَّتِيْ تَحْيَى بِهَا الْقُلُوْبُ قَبْلَ أَنْ تَقْسُوَ وَتَمُوْتَ، فَإِنَّ ذلك مَنَاطُ سَعَادَتِكُمْ أَوْ شَقَائِكُمْ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ ِالله لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA :

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إلا ِالله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:


Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Miqdad bin al-Aswad, ia menceritakan, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda :

لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْيًا.
"Sungguh, hati anak Adam (manusia) itu sangat (mudah) berbolak-balik daripada bejana apabila ia telah penuh dalam keadaan mendidih." (HR. Ahmad, no. 24317).

Kemudian al-Miqdad berkata, "Sesungguhnya orang yang beruntung (bahagia) itu adalah orang yang benar-benar terhindar dari berbagai fitnah (dosa)." Ia mengulangi ucapannya tiga kali, sambil memberikan isyarat bahwa sebab berbolak-balik dan berubahnya hati adalah dosa-dosa yang berdatangan menodai hati.
Maka dari itu, agar hati kita tidak mudah terpeleset dan menyimpang dari kebenaran dan cahaya dari Allah Subhanahu Wata’ala, bahkan sampai tertutup dan terkunci karena hawa nafsu yang membelit-nya serta segala hal yang dapat merusak dan membinasakannya, maka perlu adanya usaha-usaha penjagaan terhadap hati yang bersifat kuratif dan kontinyu, sekaligus resep (obat) sebagai usaha prefentif agar bisa selamat dari segala bentuk penyakit-penyakit hati yang mematikan.
Di antara hal yang dapat menyebabkan hati seseorang menjadi tenang dan bersih adalah amalan memperbanyak membaca ayat-ayat al-Qur`an dan mendengarkannya, karena al-Qur`an merupakan penawar yang ampuh dari penyakit syubhat dan nafsu syahwat yang keduanya merupakan inti penyakit hati seseorang. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan yang akurat yang membedakan yang haq dari yang batil, sehingga syubhat akan hilang, dan di dalamnya terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia, dan menghimbau untuk lebih mengutamakan kehidupan akhirat, sehingga penyakit nafsu syahwat akan hilang. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaf : 37).
ِالله نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ ِالله ذَلِكَ هُدَى ِالله يَهْدِي بِهِ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِل ِالله فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur`an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, gemetar karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pemberi petunjuk pun baginya." (Az-Zumar: 23).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur`an yang menunjukkan demikian. Ini menunjukkan bahwa al-Qur`an adalah sesuatu yang paling agung yang dapat melembutkan hati, bagi yang membaca, mendengarkan, dan merenungkannya, serta mengamalkannya dalam prilaku kehidupan sehari-hari.
Di antara usaha yang dapat menenangkan hati adalah dengan mengambil pelajaran terhadap kejadian dan peristiwa serta kehancuran yang menimpa umat-umat terdahulu akibat kemaksiatan yang mereka lakukan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ . أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لاَتَعْمَى اْلأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
"Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya, dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang berada di dalam dada." (Al-Hajj: 45 - 46).
Kemudian di antara yang dapat menenangkan hati adalah dengan banyak mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dalam situasi dan kondisi apa pun. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ الله وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, maka gemetarlah hati mereka, dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, maka bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Rabb merekalah mereka bertawakal." (Al-Anfal: 2).
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ الله أَلاَبِذِكْر ِالله تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (Ar-Rad: 28).
Dan termasuk penjagaan hati adalah menerima secara total setiap perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan mengamalkannya serta menjauhi setiap laranganNya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَإِذَا مَآأُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هذه إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ . وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada), dan mereka mati dalam keadaan kafir." (At-Taubah: 124 - 125).
Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَإِذَا مَآأُنزِلَتْ سُورَةٌ نَّظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُم مِّنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ الله قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَيَفْقَهُونَ
"Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
Dan di antara amalan yang dapat menjaga hati seseorang dan membuatnya lembut adalah turut merenungkan keadaan orang-orang sakit, orang fakir miskin, serta orang-orang yang telah tertimpa musibah dan cobaan. Karena dengan mengunjungi orang sakit dan melihat kondisi dan penderitaan mereka akibat penyakit yang dideritanya, maka kita bisa menilai nikmat, begitu juga manakala kita melihat keadaan orang-orang fakir miskin dan anak yatim, dan merenungkan apa yang menjadi kebutuhan mereka, tentu kita akan merasakan dan mengetahui nilai nikmat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah dianugerahkan kepada kita sehingga dapat menenangkan hati kita. Namun manakala kita mengabaikan hal-hal yang demikian, maka yang demikian dapat membuat hati-hati kita mengeras.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
"Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap WajahNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengha-rapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi: 28).

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di samping kita memperhatikan dan menghiasi hati-hati kita dengan hal-hal tersebut di atas, maka sebagai bentuk penjagaan kita juga harus senantiasa menghindari hal-hal yang dapat mengotori, merusak, menodai, dan mencemarkan hati-hati kita. Di antaranya, tidak sibuk dan mudah terpedaya dengan kenikmatan dunia yang melalaikan, terbiasa dan membiarkan mata memandang hal-hal yang diharamkan; baik melalui televisi ataupun video, dari segala bentuk siaran sinetron, ataupun gambar-gambar yang terdapat dalam surat kabar ataupun majalah, mendengarkan musik dan menikmati nyanyian seorang penyanyi, ataupun menyibukkan diri dengan olah raga tertentu, baik mengikuti perkembangannya, melihatnya secara berlebihan sampai banyak menyita sebagian besar waktu yang ada.
Dan di antara yang dapat mengotori dan merusak hati adalah makan makanan yang haram, dan berteman dengan pelaku dosa dan maksiat.
Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya kebajikan itu menyebabkan cahaya di dalam hati, sinar di wajah, kekuatan pada jasmani, melapangkan rizki dan menimbulkan rasa kasih sayang terhadap sesama. Sedangkan keburukan (dosa) menyebabkan kegelapan di dalam hati, kemuraman pada muka, kelemahan pada jasmani, mengurangi rizki, dan menimbulkan rasa benci terhadap sesama." (Madarij as-Salikin, 1/424).
Semoga kita yang hadir di majelis yang mulia ini, termasuk golongan yang akan mendapat penjagaan dari Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga hati-hati kita senantiasa selamat dan bersih dari segala sesuatu yang dapat menodai dan merusaknya.Amin ya rabbal 'alamin.

إِنَّ الله وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Senin, 24 Agustus 2015

Babad Tanah Mlati



Cerita Rakyat, Babad Mlati Kidul Kudus :

RADEN AYU MLATI
(Telaah Asal-Usul, Silsilah dan Sejarah)

Oleh :
M. Khoiruz Zad, S.Ag., S.Pd., M.Si



I.     Asal Usul
a.    Asal-usul Nama Desa Mlati
Letak geografis Kabupaten Kudus, Jawa Tengah diantara: 110 36′ BT dan 110 50′ BT dan antara 6 51′ dan 7 16′ LS. Luas Wilayah 42.516 Ha. Jarak terjauh dari barat ke timur sepanjang 16 Km dan dari Utara ke Selatan sepanjang 22 Km. Ketinggian Wilayah rata-rata ± 55 m diatas permukaan air laut. Iklim tropis, temperatur sedang. Curah Hujan ± 2500 mm/thn ± 132 hari/tahun.
Batas Wilayah
Utara               : Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati
Timur              : Kabupaten Pati
Selatan            : Kabupaten Grobogan dan Pati
Barat               : Kabupaten Demak dan Kabupaten Jepara
Letak geografis Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus diantara 110 38’ BT dan 110 44’ BT (Bujur Timur) 74’ LS dan 78’ LS (Lintang Selatan). Batas wilayahnya, yaitu:
Selatan            :  Kecamatan Jati
Utara               :  Kecamatan Bae
Timur              :  Kecamatan Jati dan Bae
Barat               :  Kecamatan Kaliwungu
Kecamatan Kota Kudus beriklim tropis dengan cuaca panas. Banyaknya Curah hujan 94 mm/th. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Kota adalah 34 derajat celcius dan suhu terendah 22 derajat celcius. Bentangan wilayah di Kecamatan Kota 100 % berupa daerah yang datar sampai berombak.
Kabupaten Kudus sampai sekarang ini, konon memiliki ratusan peninggalan sejarah, dan cerita rakyat atau mitos yang mengiringi penamaan masing-masing desa yang ada. Salah satunya adalah penaamaan tiga desa yang menggunakan nama melati atau mlati, yang meliputi Desa Mlati Kidul, Mlati Lor dan Mlati Norowito. Berikut ini, mitos yang berkembang di masyarakat yang mewarnai proses penamaan Desa Mlati oleh Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shodiq.
Menurut cerita rakyat yang berkembang, keberadaan Desa Mlati pada era Sunan Kudus, diawali dengan pencarian Sunan Kudus akan sebuah bunga yang dapat menyembuhkan penyakit kulit yang saat itu tengah merebak dan menjangkiti para santri yang bermukim di padepokan atau pesantrennya Sunan Kudus. Di saat Sunan Kudus beristirahat usai menunaikan ibadah sholat Subuh di tepi sungai sebelah timur pesantrennya, tiba-tiba tercium aroma yang sangat wangi. Karena penasaran Sunan Kudus lalu melanjutkan perjalanan ke arah timur, beberapa saat kemudian, sampailah Sunan Kudus tiba di suatu desa yang banyak ditumbuhi tanaman bunga berwarna putih dengan bau yang harum.
Saat akan memasuki sebuah pekarangan rumah yang banyak ditumbuhi tanaman bunga tersebut, tiba-tiba munculah seorang laki-laki tua dari dalam rumah yang langsung menyapa,“Maaf kisanak, kisanak siapa dan mau apa masuk ke pekarangan rumah saya?”tanya si pemilik rumah kepada Sunan Kudus sambil mempersilahkan Sunan Kudus masuk ke rumahnya. “Maaf Pak, saya seorang pengembara dari perdikan Kudus mau mencari asal-usul bau yang aromanya tercium wangi sampai di perdikan saya. Ternyata bau tersebut berasal dari tanaman bunga yang banyak tumbuh di desa ini. Kalau boleh saya tahu, apa nama bunga itu pak tua?”jawab Sunan Kudus sembari balik bertanya kepada laki-laki tua tersebut. “Ooo bunga ini yang kisanak maksudkan.
Bunga ini namanya adalah Melati, baunya memang harum, sehingga warga desa sini sangat menyukai bunga ini dan hampir semua warga memilikinya. Selain Melati ini memiliki bau yang harum, juga dinyakini warga desa dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Salah satunya penyakit kulit,”jawab Pak Tua lagi. “Apa betul itu Pak Tua? Kalau diizinkan, bolehkah saya minta beberapa tangkai bunga milik Pak Tua? Kebetulan para santri saya, saat ini tengah dijangkiti kusta. Dan kelak dalam rejoning zaman, desa ini akan dikenal dengan sebutan Desa Mlati,”tanya Sunan Kudus lagi sembari memberitahu Pak Tua tersebut bahwa kelak desa tempat tinggalnya bernama Melati atau Mlati.
“Boleh kisanak, silahkan ambil sebanyak yang kisanak butuhkan,”jawab laki-laki tua itu sambil mempersilahkan Sunan Kudus mengambil beberapa tangkai tanaman miliknya. Setelah memetik beberapa tangkai Mlati, Sunan Kudus pun minta izin pulang kembali ke padepokannya. Betul juga, sesampainya di padepokan, ternyata setelah diolesi ramuan obat dengan bahan dasar tanaman tersebut penyakit kulit yang diderita para santrinya berangsur-angsur hilang, dan akhirnya para santrinya pun sembuh dari sakitnya.
Dalam rejoning zaman, akhirnya desa tempat tinggal Pak Tua dikenal dengan sebutan Desa Mlati. Dan Oleh Penjajah Kolonial Belanda, Desa Mlati dipecah menjadi tiga.Yaitu Desa Mlati Kidul, Mlati Lor dan Mlati Norowito. Dari blog milik Kantor Lurah Mlati Kidul, yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 pukul 10.15 WIB diketahui bahwa, pada tahun 1981 Desa Mlati Kidul berubah status menjadi Kelurahan Mlati Kidul dengan Lurah Pertama bernama Soedarno yang menjabat dari tahun 1981-1990.

b.   Asal-Usul Makam Raden Ayu Mlati 
Bagi masyarakat Kelurahaan Mlati Kidul sekarang ini, tentu semuanya paham dan tahu, di mana letak makam Raden Ayu Mlati? Dan tidaklah sulit untuk menemukannya. Sayangnya ketika mereka ditanya asal usul tokoh penyebar agama Islam pertama di Mlati Kidul dan sekitarnya, tidak banyak yang tahu. Dikarenakan, belum banyak buku yang menjelaskan secara lengkap tentang sejarah maupun silsilahnya. Dalam dokumen milik keluarga Sunan Kudus, Raden Ayu Mlati memiliki nama asli Raden Ayu Kalinyamatan. 
       Adapun makamnya terletak di sebelah timur sekitar 250 meter dari Kantor Balai Kelurahan Mlati Kidul. Tetapi untuk menceritakan asal-usul Raden Ayu Mlati yang sebenarnya, tidaklah sempurna jika tidak didahului dengan menjelaskan silsilah leluhurnya, yaitu Sunan Kudus. Perlu diketahui, silsilah Sunan Kudus sebagaimana yang penulis uraikan tersebut, bukanlah silsilah sebagaimana aslinya. Tetapi silsilah yang sudah dirubah sedemikian rupa, namun tidak meninggalkan esensi daftar keturunan yang ada sebagaimana silsilah yang tertera di buku Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647.
Berdasarkan cerita rakyat yang sampai saat ini masih dipercayai, Indonesia pada zaman Wali Songgo dahulu dikenal dengan sebutan tanah nusantara. Begitu juga pada zamannya para Wali Songgo, dari silsilah Sunan Kudus tersebut yang tertera pada Buku Babad Tanah Jawi, dapat diketahui semua wali songgo bernasab sampai Nabi Muhammad SAW, tidak terkecuali Sunan Kalijaga, Raden Mas Syahid dan Sunan Muria, Raden Mas Umar Said. Menurut buku “De Hedramaut et les colonies Arabies danS’l Archipel Indien” Karya Mr. CL.N. Van den Berg, Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab asli. Tidak hanya sunan Kalijaga akan tetapi semua wali yang ada di Jawa adalah keturunan Arab.

1)               1)  Kedatangan Sunan Kudus Yang Pertama
Menurut penuturan salah seorang keturunan Sunan Kudus, DR. KH. Hamid, M.Pd.I., kedatangan Sayyid Ja’far Shodiq ke tanah nusantara karena di suruh oleh Sultan Mahmud dari Kesultanan Turki menggantikan Syekh Hasanuddin yang meninggal dunia. Kedatangan pertama Sayyid Ja’far Shodiq ke tanah nusantara yang pertama saat beliau masih berusia 22 tahun. Namun karena merasa pengetahuan Agama Islamnya masih kurang, Sayyid Ja’far Shodiq kembali lagi ke Turki dan pergi untuk menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim di Makkah selama beberapa tahun dengan tujuan memperdalam berbagai ilmu agama Islam.
2)               2)  Kedatanagan Sunan Kudus Yang Kedua
Setelah berapa tahun bermukim di Makkah, Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) ini pun kembali ke tanah nusantara. Sesampainya di tanah nusantara dan menginjakkan kakinya di Kudus, kota tersebut masih bernama Tajug. Menurut Buku Babad Tanah Jawa, Jafar Shodiq meninggalkan Kerajaan Demak karena alasan pribadi semata, yaitu karena beliau ingin hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama Islam. Sampai akhirnya Jafar Sodiq tiba pada sebuah desa kecil bernama Sunggingan. Pemilik Desa Sunggingan tersebut bernama The Liang Sing, yaitu seorang pedagang Cina yang dalam cerita terdahulu bernama Sun Ging.
Beliau dulu pernah berjasa kepada Kerajaan Majapahit untuk mengukir hiasan-hiasan kraton sehingga diberi hadiah berupa sebidang tanah kecil yang akhirnya diberi nama Desa Sunggingan karena berasal dari nama pemiliknya Sun Ging yang berarti tempat tinggal keluarga Sun Ging orang Cina beragama Islam yang datang ke tanah nusantara bersama Laksamana Cheng Hoo. Ketika itu laksamana Cheng hoo berlayar dari negeri satu ke negeri lainnya. Di samping itu, Laksamana Cheng Hoo juga mempunyai visi untuk menyebarkan Islam di wilayah Asia Tenggara. Dalam pelayarannya, ia mendarat di pelabuhan Semarang. 
The Liang Sing ikut serta dalam rombongan Cheng Hoo. Dalam perjalanannya, akhirnya ia sampai di Blora, Jawa Tengah. Kemudian ia mengembangkan dakwah Islam di daerah Juwana, Pati, dan Kudus yang berdekatan dengan Blora. Dan Ja’far sodig merupakan murid kesayangan dari The Liang Sing. Maka sangat wajar jika Ja’far Sodik selain mendapatkan ilmu agama, juga mendapatkan ilmu sosial dan kemasyarakatan, serta ilmu-ilmu yang lain.
Ketika menjadi murid atau santrinya Kyai The Liang Sing, Ja’far Shodiq mula-mula hidup di tengah-tengah jamaah dalam kelompok kecil. Para pengikutnya itu merupakan warga setempat yang dipekerjakan Ja'far Shodiq untuk menggarap tanah ladang. Ini bisa ditafsirkan bahwa Ja'far Shodiq mula-mula hidup dari penghasilan menggarap lahan pertanian. Setelah jamaahnya makin banyak, Ja'far Shodiq kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Ja'far Shodiq adalah Masjid Menara Kudus, Nama Ja'far Shodiq tercatat dalam inskripsi masjid tersebut.  
Menurut catatan dalam prasasti yang ada di Masjid Menara Kudus, masjid ini didirikan pada 956 Hijriah, sama dengan 1549 Masehi. Dalam inskripsi terdapat kalimat berbahasa ArabBatu prasastinya sendiri berasal dari Baitu Maqdis (Al Quds) di Yerusalem, Palestina, Adapun bunyi kalimat yang tertera pada batu prasasti tersebut adalah: Bismillahirrahmanirrahim. Agama bina al masjid al aqsha wa balad al kuds chalifatu badna dahr habru ( aali ) Muhammad, jasjtari izzan fi djannat al chuldi... qurban min arrahman bibalaad al kuds ansja’a haddha al masjid al manar al musammabil aqsha chalifatullahi fil-ardhi... al’ulja wal mudjahid assayyid al ariefal kamil al fadhi al maqsus bi inajati... al kadhi Dja’far as-Shadiq... sanat sittin wa chomsina wa tis’imia’atin min al hidjrah annabawiyah wa ashabihi adjmai’in.
Adapun terjemahannya dalam bahasa Indonesia: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Telah didirikan Masjid Aqsha ini dan negeri Kudus khalifah pada zaman Ulama dari keturunan Muhammad untuk membeli kemuliaan surga yang kekal. Untuk mendekati Tuhan di negeri Kudus, membina masjid Al-Manar yang dinamakan Al-Aqsha khalifatullah di bumi ini... yang Agung dan mujtahid sayyid (tuan) yang arief (maha mengetahui) Kamil (yang sempurna) fadhil (yang melebihi) al maqsus (yang dikhususkan) bi inajati (dengan pemeliharaaan) al Kadhi (penghulu hakim) Dja’far Shadiq... pada tahun 956 dari Hijrahnya Nabi Muhammad Saw.
Dari prasasti tersebut, sangatlah jelas bahwa Ja'far Shodiq menamakan masjid itu dengan sebutan Aqsa, setara dengan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kota Tajug juga mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Pada akhirnya, Ja'far Shodiq sendiri lebih terkenal dengan sebutan Sunan Kudus. Meski namanya Sunan Kudus, ia bukanlah asli Kudus. Dia datang dari Jipang Panolan ada yang mengatakan disebelah utara Blora), berjarak 25 kilometer ke arah barat kota Blora, Jawa Tengah. Di sanalah ia dilahirkan, dan diberi nama Ja'far Shodiq. Ia adalah anak dari hasil perkawinan Sunan Undung atau Sunan Ngudung (Raden Usman Haji) dengan Syarifah, cucu Sunan Ampel. Semasa jayanya, Sultan Undung terkenal sebagai panglima perang yang tangguh. Sampai suatu waktu, Sunan Undung tewas dalam peperangan antara Demak dan Majapahit.
Setelah itu, Ja'far Shodiq menggantikan posisi ayahnya. Tugas utamanya ialah menaklukkan wilayah Kerajaan Majapahit untuk memperluas kekuasaan Demak. Kenyataannya, Ja'far Shodiq terbukti hebat di medan perang, tak kalah dengan kepiawaian  ayahnya. Ja'far Shodiq berhasil mengembangkan wilayah Kerajaan Demak, ke timur mencapai Madura, dan ke arah barat hingga Cirebon. “Menurut catatan kami, Sunan Kudus datang ke bumi nusantara sebanyak dua kali. Pertama beliau datang ketika masih berusia 22 tahun, karena ada diutus oleh Sultan Mahmud dari Kesultanan Turki untuk menggantikan kedudukan Syekh Hasanudin yang meninggal dunia.
Sedangkan kedatanga beliau yang kedua, ketika beliau usai bermukim di Makkah dalam rangka menuntut ilmu. Ketika beliau sampai di Tajug (nama aslinya Kudus), beliau bertemu dengan Kyai The Liang Sing. Dan akhirnya beliau menjadi santrinya. Setelah itu, beliau mendapat amanat dari Kyai The Liang Sing untuk mengembangkan agama Islam di seluruh wilayah Tajug. Sebab Kyai Telingsing atau The Liang Sing ini sangat menyukai cara berdakwah Ja’far Shodiq,”tutur DR. KH. Hamid, M.Pd.I. lagi.

II.  Silsilah
a.    S     A. Silsilah Raden Ayu Kalinyamatan
Dari catatan yang dimiliki oleh keturunan Kanjeng Sunan Kudus, Sayyid Ja’far Shodiq, Raden Ayu Mlati sebenarnya bernama Raden Ayu Kalinyamatan merupakan keturunan ke-6 dari Sunan Kudus dari putra ke-3 bernama Panembahan Qodhi.
Namun sosok Raden Ayu Kalinyamatan yang kemudian dikenal dengan sebutan Raden Ayu Mlati tersebut, bukanlah sosok Ratu Kalinyamat sang legendaris dari Kabupaten Jepara. Selain kalah dalam pamor, Raden Ayu Kalinyamatan Keturunan ke-6 Sunan Kudus dari Putra ke-3 bernama Panembahan Qodhi yang dikenal dengan sebutan Raden Ayu Mlati ini juga kalah dalam hal publikasi. Sehingga tidak banyak orang yang mengetahui nama asli, silsilah maupun kiprahnya.
b.   Silsilah Ratu Kalinyamat Jepara
Silsilah Ratu Kalinyatamatan atau Ratu Kalinyamat dari Jepara yang memiliki nama asli Retna Kencana ini merupakan puteri Sultan Trenggono, Raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat. Pangeran Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang saudagar Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Sunan Kudus. Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah Raja Aceh (1514-1528). Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib. Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri bupati Jepara, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri. Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara. Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579. Ia dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan.

“Sebagai keluarga besar keturunan Sunan Kudus, kami selalu berpegang pada silsilah keluarga dan menyakini bahwa Raden Ayu Mlati itu memiliki nama asli Raden Ayu Kalinyamatan. Sehingga Raden Ayu Mlati kurang pamor dibandingkan Ratu Kalinyamat dari Jepara yang merupakan keturunan Raden Trenggono tersebut,”imbuh DR. KH. Hamid, M.Pd.I.



III.   Sejarah
Meskipun kalah pamor dengan Ratu Kalinyamat sang legendaris dari Kabupaten Jepara, Raden Ayu Kalinyamatan atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Ayu Mlati, tetap selalu dikenang jasa-jasanya oleh masyarakat Kudus khususnya masyarakat Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus. Disebabkan, atas usahanyalah masyarakat Mlati Kidul yang mana pada masa Sunan Kudus dikenal sebagai daerah abangan (tempat bersarangnya para prampok atau begal), akhirnya sekarang menjadi daerah yang agamis.
Dari cerita rakyat yang berkembang di Mlati Kidul, Raden Ayu Mlati di dalam berdakwah dibantu oleh Kyai Ibrahim, mantan seorang pimpinan perampok yang berhasil dikalahkan dan di Islamkan oleh Raden Ayu Mlati. Untuk mempermudah proses pengislaman masyarakat Mlati Kidul yang saat itu dikenal abangan, Raden Ayu Mlati menyuruh Kyai Ibrahim untuk berdakwah di dusun Ngasem, yang mana lokasinya berada di sebelah barat Mlati Kidul yang kemudian dikenal de\ngan sebutan Asembatur. Sebagaimana dengan para leluhurnya, yaitu Sunan Kudus, di dalam berdakwah Raden Ayu Mlati ini tutur katanya santun dan memikat hati para pendengarnya.
Selain itu, Raden Ayu Kalinyamatan dalam berdakwah,  menggunakan metode berdakwah sambil mengumandangkan lagam-lagam jawa hasil kreasi Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Karena piawai di dalam berdakwah, dalam waktu singkat Mlati Kidul yang masyarakatnya semula dikenal abangan, menjadi masyarakat yang agamis. Selain dikenal piawai dalam berdakwah, Raden Ayu Mlati dahulu juga dikenal sebagai seorang pemuka agama yang adil.
Bilamana ada seorang atau kelompok perampok yang tertangkap ketika beraksi, tetapi tetap tidak mau mengakui perbuatannya, namun perampok yang tertangkap saat dihadapkan ke persidangan Raden Ayu Mlati, sang perampok ini pun tidak bisa berkutik dan mau  mengakui kesalahannya. Dikarenakan sebelum dihadapkan di muka persidangan, perampok tersebut diberi minum segelas air putih yang berasal dari sumur tulak yang lokasi sumurnya berada sekitar 100 m arah utara kantor lurah Mlati.
Konon kabarnya, sumur yang airnya dapat dipakai untuk menolak atau membuka hati kejujuran para pelaku kejahatan tersebut, sumur hasil galian Raden Ayu Mlati saat Mlati dilanda kekeringan. Namun saat digali, sumur itu tidak juga mengeluarkan atau memancarkan air sebagaimana yang diharapkan.Untuk memancing agar air segera memancar keluar dari dalam sumur yang di gali itu, Raden Ayu Mlati mengambil segelas air dari sumur peninggalan Sunan Kudus di masjid wali di Desa Nganguk Wali yang berkhasiat dapat membuat seseorang mengakui perbuatan salahnya, padahal sebelumnya orang tersebut tidak mau mengakui kesalahannya meskipun telah dilakukan berbagai upaya termasuk mencambuk orang tersebut.
Di saat Raden Mlati masih hidup, beliau memiliki abdi dalem bernama Dasimah atau yang di kenal dengan sebutan Nyai Dasimah. Konon kabarnya, Nyai Dasimah ini merupakan penduduk asli Desa Mlati yang memiliki tutur kata dan sikap yang baik serta santun. Selain itu, Nyai Dasimah juga suka menolong warga desa yang sedang membutuhkan bantuannya. Oleh Karena itu, oleh lurah pertama Mlati Kidul, nama Nyai Dasimah juga diabadikan menjadi salah nama jalan desa di Kelurahaan Mlati Kidul sebagaimana doro putrinya, yaitu Jalan Nyai Dasimah.
Makam Raden Ayu Mlati terletak di Kelurahan Mlati Kidul Kecamatan Kota Kudus. Ukuran makam panjangnya 2,60 m, tinggi 1,4 m, panjang bangunan 12,5 m, lebar bangunan 9 m, panjang cungkup 7,2 m, lebar cungkup 4,87 m dan tinggi cungkup 1,85 m. Bahan-bahanya terdiri dari bata merah, semen dan kayu jati kuno. Makam ini dibuat pada jaman kewalian dan kondisinya terawat dengan baik. Makam ini semula pesarean, namun sekarang menjadi tempat ziarah dan merupakan milik masyarakat Mlati Kidul.
Di makam Raden Ayu Mlati biasanya ada tradisi semacam buka luwur, tetapi acara buka luwur di Makam Raden Ayu Mlati diadakan setelah tradisi buka luwur di Makam Sunan Kudus. Menurut DR. KH. Hamid, M.Pd.I., semasa hidupnya sangat menyukai masakan nasi kuning, pecel lele, gudangan, jajan pasar dan dawet. “Sebagaimana keturunan Sunan Kudus lainnya, Raden Ayu Mlati semasa hidupnya ini sangat menyukai masakan lele. Saat ini, Kelurahan Mlati Kidul yang mana dulunya adalah bagian dari Desa Mlati merupakan salah satu Kelurahan dari 9 Kelurahan dan 16 Desa di Kecamatan Kota Kudus, yang terdiri 3 RW dan 19 RT,”jelasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
Andjar Any. 1979. Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
Babad Majapahit dan Para Wali Jilid 3. 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
Kerajaan di Jawa
http://www.wartamadani.com/2013/10/silsilah-dan-asal-usul-sunan-kalijaga.html yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB
https://mlatikidul.wordpress.com/ yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB
         diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kudus#Geografi, yang diunggah Senin, 10 Agustus 2015 Pukul 09.45 WIB